
HALO SEMARANG – Tiupan angin siang itu nampak sepoi-sepoi di pesisir utara Kota Semarang. Selepas melaut mencari kerang hijau, Salamun tidak lantas melepas lelahnya.
Ia mengkreasi limbah di sekitarnya untuk dijadikan kerajinan dengan nilai tinggi. Lembaran besi tipis dari kaleng, ia potong menjadi kecil-kecil untuk dijadikan bahan.
Dengan paduan macam-macam limbah, kerajinan indah tercipta dari tangan Salamun. Salah satunya dia menyulap limbah menjadi kerajinan berbentuk Burung Merak.
Rutinitas itu telah Salamun lakukan selama setengah dasawarsa, di gubug sederhana yang terletak di Jalan Tambakrejo RT III/ XVI, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara.
Salamun mengakui, upaya untuk mengurangi sampah tidak sebanding dengan produksi sampah tiap harinya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus berusaha.
“Saya berpikir, caranya bagaimana agar bisa membersihkan sampah walaupun sendiri, ya memang tidak bisa habis (sampahnya) tapi setidaknya bisa mengurangi,” jelas Salamun di rumahnya, Sabtu (29/5/2021).
Sambil merakit limbah menjadi kerajinan, Salamun menuturkan, melihat hamparan sampah di utara Kota Lumpia adalah titik awal dirinya menjadi pesulap limbah menjadi kerajinan dengan ekonomi tinggi.

Tak hanya kaleng, namun ia juga memungut kayu dan bambu yang mengapung di lautan. Selain rupa Burung Merak elok, miniatur kapal juga lahir dari tangan terampilnya.
“Jika dilihat, laut Semarang itu tidak enak banget. Ada kaleng mengapung saya ambil bawa pulang. Kemudian saya rakit sendiri,” imbuh pria berusia 45 tahun itu.
Salamun mengatakan, sampah plastik adalah paling mendominasi. Hal itu terus memacu tujuan mulia dirinya mengurangi limbah dengan menciptakan karya-karya kerajinan.
“Paling banyak sampah plastik, saya belum tahu akan dibuat apa. Tapi saya akan terus berusaha agar sampah plastik juga bisa berkurang,” katanya.
Melalui upaya itu, Salamun berharap masyarakat akan mengikuti langkahnya peduli lingkungan. Dalam bentuk apapun tidak hanya membuat kerajinan.
Dalam mengkreasi sampah menjadi kerajinan, Salamun mengaku mengerjakannya sendiri dengan alat sederhana.
Ukuran 90 x 90 cm untuk patung Burung Merak dapat ia rampungkan selama satu pekan. Sementara untuk kerajinan berukuran kecil lainnya, tiga miniatur dapat diciptakan Salamun dalam satu hari.
Setiap kerajinan yang ia hasilkan memiliki nilai jual berbeda-beda. Salamun membandrol dari harga Rp 150 ribu sampai Rp 1,5 juta.
Karya Salamun sudah diketahui oleh banyak orang, melalui informasi dari mulut ke mulut. Namun, ia juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil karyanya.
Ia dibantu mahasiswa yang sedang menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam memasarkan hasil karyanya.
“Di sini juga ada mahasiswa KKN, lakunya ya dari mereka. Cara penjualannya mereka bantu,” tutup Salamun.(HS)