HALO CILACAP – Prevalensi stunting di Kabupaten Cilacap meningkat satu persen dari 2022 ke 2023. Diperlukan intervensi lebih intensif dan kolaborasi berbagai pihak untuk menurunkan angka tersebut.
Permasalahan stunting tersebut disampaikan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Cilacap, Mohamad Wijaya, mewakili Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap, dalam workshop Jejaring Keamanan Pangan Daerah, di Ruang Rapat Jala Bhumi, Sekretariat Daerah Kabupaten Cilacap, Selasa (19/11/2024).
Workshop digelar Dinas Ketahanan Pangan Pemerintah Kabupaten Cilacap, untuk mensinergikan instansi terkait, dalam pengawasan mutu, keamanan pangan, dan penanganan stunting.
Lebih lanjut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Cilacap, Mohamad Wijaya mengatakan pangan yang aman, menjadi dasar untuk mencegah malnutrisi dan penyakit.
“Kami menghadapi permasalahan yang krusial, yakni kekurangan gizi, yang dalam banyak kasus berujung pada stunting,” kata Wijaya, seperti dirilis cilacapkab.go.id.
Dia mengatakan, di Kabupaten Cilacap, prevalensi stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 tercatat 17,6 persen, dan meningkat menjadi 18,5 persen pada tahun 2023.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih intensif dan kolaborasi antarpihak untuk menurunkan angka stunting, yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di masa depan,” kata dia.
Oleh karena itu, Tim Jejaring Keamanan Pangan Daerah (TJKPD) yang mempunyai peranan penting dalam melakukan langkah-langkah pencegahan, seperti pengawasan kualitas pangan, edukasi masyarakat, dan penerapan standar keamanan pangan.
Kepala Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Sigit Widayanto, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini diselengarakan untuk menyelaraskan pola piker, dan meningkatkan wawasan tentang pentingnya mutu dan keamanan pangan di Kabupaten Cilacap,
Keamanan pangan merupakan prasyarat utama, untuk memperoleh pangan bergizi, dalam menjalani hidup sehat dan produktif, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Workshop diisi oleh tiga pemateri yakni Kepala Bappeda Kabupaten Cilacap Sujito, Kepala Bidang Farmasi, Alat Kesehatan, Makanan dan Minuman pada Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Babupaten Cilacap Hudaefah dan Kepala Loka POM Banyumas Winananto.
Saat memaparkan materi, Sujito menyampaikan dalam rangka menangani masalah stunting, saat penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) agar memunculkan kegiatan rembug stunting, yang didukung oleh inovasi-inovasi dalam rangka menurunkan stunting, sedangkan Hudaefah menyampaikan materi tetang Peran District Food Inspector melalui Pengawasan Keamanan Pangan dalam Pencegahan Stunting di Kabupaten Cilacap.
Sebagai pemateri terakhir Kepala Loka POM di Banyumas, Winananto menyampaikan, Sinergitas BPOM dan Tim JKPD dalam Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting Melalui Keamanan Pangan.
Namun ironisnya di tengah keseriusan Pemerintah Daerah dalam upaya menurunkan angka stunting, masih saja ditemukan tahu berformalin di wilayah Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga yang tentunya menjadi catatan penting bagi perlindungan dan keamanan pangan bagi masyarakat. (HS-08)