in

Polri Jajaki Kemungkinan Penggunaan Teknologi Pengenalan Wajah Milik Imigrasi

Ilustarsi teknologi pengenalan wajah. (Sumber : setda.bontangkota.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menjajaki kemungkinan integrasi teknologi face recognition yang dibangun Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI, dengan sistem yang dimiliki Polri.

Kadiv Hubinter Polri, Brigjen Pol Krishna Murti SIK MSi, seperti dirilis Tribratanews.polri.go.id, menjelaskan sistem yang dibangun oleh Imigrasi ini, ada kemungkinan diintegrasikan dengan sistem milik Polri, sehingga bisa mengenali, mendeteksi pelaku-pelaku kejahatan.

“Sistem ini harus ada yang menggunakan, yaitu operator-operator. Dan hari ini adalah pelatihan. Sebenarnya mereka sudah terlatih, makanya dilakukan refreshner atau penyegaran kembali, diberikan hal-hal baru,” jelasnya, saat memberikan materi pada user refreshner training di Yogyakarta, baru-baru ini.

Kegiatan ini diikuti oleh elemen Polda se-Indonesia.

Jenderal Bintang Satu ini, menjelaskan sistem tersebut bakal didukung dengan basis data yang dimiliki Polri, mengenai pelaku kejahatan transnasional, yang masuk daftar pencarian orang (DPO) atau yang menjadi subjek red notice.

Sementara itu teknologi pengenalan wajah atau face recognition / Facial Recognition, sudah digunakan untuk berbegai keperluan.

Perusahaan keamanan siber swasta asal Rusia, Kaspersky, melalui laman kaspersky.com, menyebutkan pengenalan wajah adalah cara untuk mengidentifikasi atau mengkonfirmasi identitas individu, menggunakan wajah mereka.

Sistem pengenalan wajah dapat digunakan untuk mengidentifikasi orang dalam foto, video, atau secara real-time.

Pengenalan wajah adalah kategori keamanan biometrik, bentuk lain dari perangkat lunak biometrik, termasuk pengenalan suara, pengenalan sidik jari, dan retina mata atau pengenalan iris.

Teknologi ini, sebagian besar digunakan untuk keamanan dan penegakan hukum. Namun demikian teknologi ini digunakan pula di bidang penggunaan lainnya, antara lain diterapkan dalam sistem pengamanan ponsel.

Dengan menggunakan sistem face identification ini, pemilik gawai dapat membuka ponsel hanya dengan menghadapkan kamera depan gawai miliknya itu ke wajahnya.

Laman kaspersky.com memberi contoh ponsel yang menggunakan teknologi tersebut adalah iPhone. Namun ponsel merek lain seperti Oppo A5S pun sudah menggunakan teknologi tersebut.

Selain membuka kunci ponsel, pengenalan wajah bekerja dengan mencocokkan wajah orang yang berjalan melewati kamera khusus, dengan gambar orang dalam daftar pantauan.

Daftar pantauan dapat berisi gambar siapa saja, termasuk orang yang tidak dicurigai melakukan kesalahan.

Gambar tersebut juga dapat berasal dari mana saja, bahkan dari akun media sosial kita.

Sistem teknologi wajah dapat bervariasi, tetapi secara umum, cara kerja teknologi ini adalah dengan menangkap citra wajah melalui kamera, mengonversi gambar menjadi data, menganalisanya, dan menemukan kecocokan.

Dengan teknologi ini, pekerjaan manusia yang berkaitan dengan pengenalan wajah dan identitas menjadi lebih mudah dilakukan.

Dalam penegakan hukum, polisi dapat melakukan pengenalan wajah secara cepat, untuk mengindetifikasi pelaku kejahatan.

Teknologi ini juga dalam digunakan di bandara dan kontrol perbatasan, menemukan orang hilang, mengurangi kejahatan ritel dan meningkatkan pengalaman ritel, perbankan online, pemasaran dan periklanan, kesehatan, melacak kehadiran siswa atau pekerja, mengenali pengemudi, hingga memantau kecanduan judi.

Namun demikian, teknologi ini juga memiliki kekurangan, karena dapat digunakan sebagai alat pengawasan massal, bukan hanya oleh pemerintah atau negara, melainkan juga pihak lain yang menggunakan secara ilegal.

Beberapa pihak khawatir, bahwa penggunaan pengenalan wajah bersama dengan kamera video di mana-mana, kecerdasan buatan, dan analitik data, menciptakan potensi pengawasan massal.

Pengawasan ini dapat berdampak pada pembatasan kebebasan individu. Ketika teknologi pengenalan wajah memungkinkan pemerintah melacak penjahat, itu juga memungkinkan mereka melacak orang biasa dan tidak bersalah kapan saja.

Kelemahan lain dari sistem ini, adalah ketidakakuratan dalam pengenalan wajah, sehingga orang yang tidak bersalah pun dapat tersangkut suatu perkara.

Bahkan sedikit perubahan sudut kamera atau perubahan penampilan, seperti gaya rambut baru, dapat menyebabkan kesalahan.

Kapersky menyebut, pada 2018, Newsweek melaporkan bahwa teknologi pengenalan wajah Amazon, telah salah mengidentifikasi 28 anggota Kongres AS, sebagai orang yang ditangkap karena kejahatan.

Di Indonesia, ketidakakuratan sistem pengenalan wajah, juga pernah menyebabkan polisi salah tangkap, dalam kasus pengeroyokan pegiat media sosial, Ade Armando.

Semula, polisi memasukkan nama Abdul Manaf, dalam kasus pengeroyokan itu. Lelaki itu kemudian masuk dalam daftar pencarian orang, hingga kemudian ditemukan di daerah Karawang.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata Abdul Manaf tak terlibat dalam peristiwa itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan, saat itu mengakui bahwa hasil face recognition tingkat akurasinya tidak mencapai 100 persen. (HS-08)

Polisi Berhasil Gagalkan Penyelundupan Terumbu Karang Ilegal

Masuk Platform “Jagat Nusantara”, Jokowi Tampil Dalam Versi Avatar