HALO SEMARANG – Suasana khidmat dan penuh inspirasi mewarnai Acara Pelepasan Wisudawan Sarjana Hukum ke-75 Universitas Semarang (USM). Momentum tersebut tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa studi, tetapi juga awal perjalanan baru para lulusan Fakultas Hukum untuk mengabdi pada keadilan dan kemanusiaan.
Dalam kesempatan itu, perwakilan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) USM, Wahyu Puji Widodo, SH, MH, alumni Sarjana dan Magister Hukum USM, menyampaikan sambutan yang sarat makna tentang perubahan, perjuangan, dan pengabdian. Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan wali, Wahyu menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan hidup terletak pada keberanian untuk berubah.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai landasan refleksi hidup:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
(QS. Ar-Ra’d: 11).
Menurut Wahyu, gelar Sarjana Hukum bukanlah sekadar pencapaian akademik, melainkan awal dari tanggung jawab moral dan konstitusional yang besar. Ia menekankan bahwa tujuan tertinggi seorang sarjana hukum adalah menjadi pejuang keadilan yang berintegritas, yang menggunakan ilmunya untuk menjaga hak-hak warga negara sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.
“Hukum bukan hanya soal pasal dan prosedur. Hukum adalah tentang keberanian menjaga keadilan, melindungi yang lemah, dan memastikan hak konstitusional warga negara benar-benar hadir dalam kehidupan nyata,” tegas Wahyu, yang juga merupakan perwakilan IKA USM Fakultas Hukum.
Sebagai advokat yang berkantor di Kantor Hukum WAR, sekaligus konsultan hukum dan konsultan hukum bisnis properti, Wahyu turut membagikan kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Ia mengisahkan keputusan besar untuk kembali menempuh pendidikan tinggi di usia 33 tahun, hingga dalam kurun waktu lima tahun berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dan Magister Hukum di Universitas Semarang.
Tak hanya berkutat di dunia profesi, Wahyu juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan melalui Yayasan Wakaf Wahyu Alam Rahardja, Pondok Hukum Semarang, serta LPMK Karanganyar Gunung. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa ilmu hukum harus senantiasa berpihak pada kemanusiaan.
“Tidak ada hasil yang mengingkari perjuangan. Setiap proses akan menemukan waktunya sendiri. Yang membuat seseorang luar biasa bukan dari mana ia berasal, tetapi sejauh mana ia mau berjuang,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Wahyu mengajak para wisudawan untuk menjadikan ilmu hukum sebagai jalan pengabdian dan kebermanfaatan bagi sesama.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Jadilah Sarjana Hukum yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga jujur, berintegritas, dan berpihak pada keadilan,” pesannya.
Acara Pelepasan Wisudawan Sarjana Hukum ke-75 ini pun menjadi momentum penting bagi Universitas Semarang dalam melahirkan generasi sarjana hukum yang berkarakter, berintegritas, dan siap mengemban amanah konstitusi demi tegaknya keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan.(HS)


