in

Pengusaha Empon Empon Boyolali Prediksi Penjualan Meningkat pada Juli

Suwarno pemilik usaha empon-empon di depan gudang miliknya. (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Penjualan empon-empon atau bahan baku untuk minuman tradisional dari desa Rembun Kecamatan Nogosari, Boyolali, diprediksi akan mengalami peningkatan, pada Juli 2022 nanti. Adapun untuk saat ini, penjualan sedikit berkurang, karena dipengaruhi oleh hujan yang masih sering turun.

Hal itu diungkapkan warga Desa Rembun yang sudah sejak 1980 menjadi pengusaha empon-empon, Suwarno.

“Ya, saat ini, agak turun sedikit karena ada kadar air pada bahan tersebut. Tapi nanti pada bulan ke tujuh akan mengalami kenaikan permintaan,” katanya, di lokasi usahanya di Desa Rembun, Kamis (21/4/2022), seperti dirilis Boyolali.go.id.

Dia mengatakan ketika hujan masih sering turun seperti saat ini, sulit untuk menghasilkan empon-empon kering yang sesuai permintaan konsumen. Karena itulah pada musim-musim seperti ini, permintaan mengalami penurunan, terutama dari negara tetangga, seperti Hongkong.

Suwarno yang juga Kepala Desa Rembun ini, mengatakan untuk sementara ini pihaknya kulakaan dari berbagai wilayah, seperti Surabaya dan Lamongan. Selain itu untuk bahan baku seperti jahe dan kencur, didatangkan dari wilayah Boyolali, seperti Simo, Andong, dan Nogosari.

Adapun untuk jahe merah, didatangkan dari wilayah Sumatera, Pacitan, Ponorogo dan Wonogiri.

“Dari wilayah Boyolali ini jahe dan kencur juga. Tapi kita juga cari yang kualitasnya bagus. Kemudian kalau jahe merah kita ambil dari Sumatera dan Pacitan,”kata Suwarno.

Suwarno mengatakan, saat ini permintaan terbanyak adalah kayu secang, jinten hitam, jahe dan manis jangan. Permintaan ini datang dari wilayah Jakarta, Semarang, Surabaya dan kota kota besar lainnya di Indonesia.

“Kalau bahan bahan baku ini seperti jahe, kayu secang, jinten hitam ini hampir seminggu sekali dan paling lama dua minggu sekali pengiriman barang ke sejumlah pabrik jamu di wilayah Indonesia,”jelas dia.

Lanjut Suwarno, perminggu rata rata dapat mengeluarkan bahan baku jenis empon empon sekitar 20 sampai 30 ton. Sedangkan soal harga bervariasi, kapulogo perkilo Rp 45 ribu, secang Rp 25 ribu dan jahe Rp 47 ribu.

“Ya, kalau harga itu bervariasi tergantung jenis barangnya,”jelas dia.

Lebih lanjut, Suwarno mengatakan,kondisi musim sekarang tidak menentu sehingga dapat mempengaruhi pola penjemuran pada empon empon. Selain itu, dimasa penghujan tahun ini juga mempengarui bahan baku yang didatangkan dari para petani.

“Kalau musim sekarang ini, para petani belum masa panen. Ada keterlambatan sedikit untuk bahan baku jenis jahe. Saat musim penghujan juga mempengaruhi penjemuran yang berakibat terhadap kualitas barang,” katanya.(HS-08)

Sistem One Way Diberlakukan 28 April, Jasa Marga Prediksi Pelambatan Arus

Peringati Hari Bumi, Google Peringatkan Soal Perubahan Iklim