in

Pemerintah Keluarkan Paket Kebijakan Atasi Dampak El Nino dan Tekanan Ekonomi Global

Menkeu Sri Mulyani (Foto : setkab.go.id)

 

HALO SEMARANG – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu), meluncurkan paket kebijakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi.

Kebijakan tersebut dilakukan dalam rangka merespons gejolak ekonomi global, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan kemarau panjang akibat El Nino.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, Rabu (25/10/2023), di Jakarta.

“Saya ingin menyampaikan beberapa langkah kebijakan APBN, untuk menjaga stabilitas dan menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah deraan dan tekanan yang sekarang ini terjadi dari ekonomi global,” kata dia, seperti dirilis setkab.go.id, Kamis (26/10/2023).

Menurut Sri Mulyani Indrawati, selain tekanan ekonomi global, ada juga faktor El Nino, yang berdampak pada terjadinya kemarau panjang dan mengganggu produksi pangan.

El Nino telah mengakibatkan lonjakan harga komoditas seperti beras, yang memicu tekanan inflasi tinggi.

Kondisi ini, menurut dia memukul banyak pihak, terutama masyarakat yang masuk dalam golongan berpendapatan rendah.

Selain itu, tingginya suku bunga di negara maju dan melemahnya outlook perekonomian global, menimbulkan dampak yang sangat terasa di dalam perekonomian dan masyarakat.

“Maka APBN perlu untuk memberikan perlindungan dengan penebalan bansos. Ini supaya terutama masyarakat yang berpendapatan rendah, kita juga ingin memperkuat kegiatan ekonomi terutama di level grass root dengan UMKM,” kata dia.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah ingin terus mendorong kemajuan UMKM, terutama melalui penyaluran KUR.

“Kita ingin meningkatkan, terutama sektor properti perumahan,” kata dia,

Sri Mulyani menjelaskan, paket kebijakan pertama adalah penebalan bansos berupa tambahan bantuan beras dan bantuan langsung tunai (BLT).

Kebijakan ini bertujuan menjaga daya beli, stabilisasi harga, dan pengendalian inflasi.

Tambahan bantuan beras akan diberikan kepada 21,3 juta kelompok penerima manfaat sebesar 10 kilogaram selama Desember, dengan total kebutuhan anggaran Rp 2,67 triliun.

Sementara, BLT akan diberikan kepada 18,8 juta kelompok penerima manfaat sebesar Rp 200 ribu per bulan, selama November-Desember, dengan total kebutuhan anggaran Rp 7,52 triliun.

Paket kebijakan kedua, ditujukan untuk mengoptimalkan peran UMKM melalui percepatan realisasi kredit usaha rakyat (KUR).

“Kita mendorong KUR ini ya tahun ini untuk bisa ditingkatkan mencapai Rp297 triliun targetnya. Kita melihat pelaksanaan KUR agak tersendat pada semester satu, maka kita minta agar program ini diakselerasi sehingga bisa tercapai target 297,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani menjelaskan paket kebijakan ketiga adalah penguatan sektor perumahan untuk mendongkrak kegiatan di sektor konstruksi perumahan dan sekaligus membantu masyarakat berpendapatan rendah untuk bisa mendapatkan rumah.

Bentuk kebijakannya yaitu pemberian pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk penjualan rumah baru dengan harga di bawah Rp2 miliar.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah juga memberi bantuan biaya administrasi (BBA) selama 14 bulan sebesar Rp4 juta per rumah.

Terakhir, dukungan juga diberikan pada penambahan target bantuan rumah sejahtera terpadu (RST) untuk masyarakat miskin sebanyak 1,8 ribu rumah.

“Berbagai langkah-langkah ini yang kita lakukan untuk terutama sektor konstruksi, tapi juga di bantalan bantalan sosial, kami berharap bisa membuat perekonomian kita bertahan dari guncangan ketidakpastian global,” tandasnya. (HS-08)

Tangani Stunting di Kabupaten Batang, Bank Jateng Gelontorkan Dana Rp 1 Miliar

Jokowi Tekankan Cadangan Beras Harus Ada Meski Surplus