SUASANA hangat dan sedikit pengap menyelimuti Ruang Balai Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, siang itu. Rabu, 21 Januari 2026, ruang yang biasanya menjadi tempat urus administrasi warga ini kini berubah fungsi menjadi sekadar atap pelindung bagi ratusan jiwa yang terdampak banjir.
Lantai balai desa tak terlihat lagi, tertutup rapat oleh kasur tipis dan tikar compang-camping. Di sudut-sudut ruangan, warga duduk bersandar lesu di dinding, mencari sedikit kenyamanan di tengah kesempitan ruang. Ada yang berbincang pelan menenangkan anak-anak, ada pula yang hanya diam dalam lamunan, menatap kosong di antara hiruk pikuk lalu lalang para relawan yang sibuk membawa logistik.
Di tengah hiruk pikuk kepanikan itu, sebuah kelembutan hadir menyapa. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, tiba bukan sekadar untuk tinjauan rutin. Ia hadir dengan langkah pasti menuju para pengungsi, duduk bersimpuh di lantai tikar yang sama, menyamakan kedudukan dengan mereka yang sedang ditimpa musibah.
Perhatian pria yang akrab disapa Gus Yasin ini tertuju pada satu sosok renta: seorang lansia yang terduduk di antara pengungsi lain. Kabar beredar di kalangan petugas, lansia ini sempat terpeleset dan terjatuh di lokasi pengungsian yang licin. Kondisi fisiknya yang lemah membuat kejadian itu menjadi kekhawatiran tersendiri.
Dengan suara lembut namun tegas, Gus Yasin mendekat dan memegang tangan sang lansia.
“Mbah katanya kemarin jatuh, nggih? Sekarang bagian mana yang sakit?” tanya Gus Yasin, matanya menatap penuh kekhawatiran.
Sang lansia hanya menjawab singkat, seraya mengangguk bahwa kondisinya sudah membaik. Ia mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa sakit, barangkali karena merasa tidak ingin merepotkan banyak orang di tengah situasi darurat seperti ini. Namun, kehati-hatian Gus Yasin tidak boleh dikalahkan oleh kerendahan hati si Mbah.
Ia berusaha membujuk agar sang lansia mau diperiksa secara medis. Namun, sang Mbah tetap bergeming dengan alasan yang sama: tak ingin menyusahkan petugas.
Terkait hal ini, Gus Yasin kemudian berbicara kepada para petugas kesehatan dan relawan di sekitarnya. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan lanjut adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Bagi orang seusia sang Mbah, cidera ringan bisa berujung fatal jika tidak ditangani.
“Tadi ada satu lansia yang kemarin jatuh, harusnya memang ada pemeriksaan lanjut, tetapi Mbahnya nggak mau. Maka tadi saya minta untuk rontgennya kalau bisa dibawa ke sini untuk memastikan tidak ada luka dalam,” kata Gus Yasin penuh tekad.
Baginya, keselamatan jiwa adalah prioritas utama di tengah bencana. Langkah pencegahan harus dilakukan secepat mungkin, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia.
Setelah memastikan nasib sang Mbah, perhatian Gus Yasin beralih ke pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi lainnya. Ia memeriksa dapur umum dan memastikan stok obat-obatan di posko kesehatan mencukupi.
“Untuk layanan kesehatan, alhamdulillah sudah baik semuanya, obat-obatan juga baik. Dari dapur umum juga selalu dikirim ke sini,” tuturnya, sedikit meredakan kecemasan.
Kehadiran Wagub di Bumirejo itu bukanlah sekadar seremonial. Ia membawa serta bukti kepedulian nyata dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada hari itu, bantuan senilai Rp84,196 juta disalurkan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Pati. Bantuan itu mencakup kebutuhan pokok permakanan, logistik pengungsian, hingga paket obat-obatan yang kini sangat vital.
Situasi darurat di Pati sendiri telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Bupati Pati Nomor 400.9.10.2/0041 Tahun 2026. Status Tanggap Darurat Bencana ditetapkan selama 14 hari, terhitung sejak 10 hingga 23 Januari 2026.
Di penghujung kunjungan, saat Gus Yasin beranjak pergi, suasana di Balai Desa Bumirejo terasa sedikit lebih ringan. Meski air di luar masih menggenang, namun di dalam balai, rasa peduli telah tumbuh menghangatkan dinginnya hari-hari para pengungsi.(HS)


