in

Pasar Hewan Berpotensi Jadi Area Penularan PMK, DP4 Blora Perketat Pengawasan Lalu Lintas Ternak

Foto : blorakab.go.id

 

HALO BLORA – Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora akan menempatkan petugas kesehatan hewan di pasar-pasar hewan, sebagai tindaklanjut atas melonjaknya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Blora.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Hewan DP4 Kabupaten Blora, Rasmiyana, terkait dengan upaya mewaspadai lonjakan lagi penyakit kuku dan mulut.

Dia mengatakan, pasar-pasar hewan menjadi salah satu tempat, yang bisa berpotensi menjadi area penularan PMK. Hal itu lantaran sapi-sapi dari luar kota juga masuk Blora.

“Untuk mewaspadai adanya lonjakan lagi kasus PMK, pengawasan lalu lintas ternak di pasar hewan akan mulai diperketat,” kata Rasmiyana, di Blora, Jumat (10/10/2025), seperti dirilis blorakab.go.id.

Hal itu sebagai tindaklanjut atas melonjaknya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Blora.

“Di pasar hewan kita tempatkan petugas di setiap pintu masuk pasar. Petugas itu bertugas mengecek sapi-sapi yang akan masuk dan memastikan sapi tersebut sehat tidak membawa penyakit menular,” terangnya.

Diketahui, Agustus 2025 kasus PMK nihil, namun terjadi lonjakan kasus PMK pada September 2025, sebanyak 20 ekor terjangkit PMK.

Menurutnya, jika ditemukan sapi atau ternak dengan gejala PMK, maka pedagang diminta untuk tidak menjual sapi tersebut.

Kemudian, jika ditemukan gejala penyakit menular pada ternak yang akan masuk, pihaknya mengimbau pada pedagang agar membawa pulang ternaknya untuk diisolasi dan diobati agar penyakit tidak menyebar di pasar.

“Kami minta sapi tersebut untuk tidak dijual, karena dengan dijual nanti sampai kepada peternak juga akan merugi,” tandasnya.

Untuk diketahui, dua pekan pertama September 2025 lalu, total ada 20 kasus PMK terdeteksi di Kabupaten Blora. Adapun sebaran kasus PMK paling banyak terjadi di Kecamatan Jepon.

Meski demikian, menurut Rasmiyana sudah ditindak lanjuti dengan pengobatan, edukasi pada masyarakat untuk penanganan PMK agar ternak-ternak yang terjangkit bisa terselamatkan.

“Untuk persebaran dari 20 ekor yang terkena PMK ini tertinggi di Kecamatan Jepon. Kemudian ada juga di Kecamatan Jiken, di Kecamatan Randublatung,” terangnya.

Menurut Rasmiyana, lonjakan kasus terjadi di September ini, sebab bulan-bulan sebelumnya cenderung landai. Bahkan, Agustus nol kasus PMK.

“Bulan sebelumnya kasus cenderung landai, dan bahkan kita sempat beberapa minggu tidak ada laporan kasus dari teman-teman di lapangan, Agustus nol kasus PMK,” jelasnya.

Rasmiyana menyebut salah satu faktor terjadinya lonjakan kasus PMK di Blora yakni kondisi cuaca.

“Beberapa hari ini kita jumpai curah hujan dengan cuaca lembab, itu memang sangat mendukung untuk perkembangan virus PMK,” terangnya. (HS-08)

Seminar Kajian Koleksi Pawon Kartini Jadi Pembuka Rangkaian Peringatan Hari Museum Nasional di Rembang

Konsisten Salurkan Insentif untuk Guru Agama, Pemprov Jateng Menuai Apresiasi