DI bawah terik matahari Semarang yang setia menyengat, sekelompok pemuda berpakaian serba branded memukul-mukul bola yang mirip bola tenis tapi lebih kecil dan ringan, sambil lari-lari di lapangan berukuran setengah lapangan tenis.
Bukan tenis biasa, bukan pula bulu tangkis ala lapangan tanah liat, ini padel Bro,, olahraga impor dari Spanyol yang tiba-tiba saja jadi primadona di kota ini. Sejak awal 2025, lapangan-lapangan mungil berpagar kaca bermunculan seperti jamur di musim hujan, mengubah ritme kota yang biasanya sibuk dengan lumpur banjir menjadi hiruk-pikuk keringat elit.
Dan ya, ini bukan sekadar tren; ini revolusi kecil yang membuat warga Semarang bertanya-tanya: apakah kita sedang berolahraga, atau cuma berpura-pura jadi atlet sambil curi-curi pandang gadis-gadis cantik di lapangan sebelah?
Tren ini tak datang begitu saja. Seperti berita pagi yang dimulai dengan lead mengejutkan, padel mendarat di Semarang lewat komunitas-komunitas kecil yang lahir di awal tahun.
Awalnya, hanya segelintir penggila olahraga urban yang penasaran dengan campuran tenis dan squash ini. Tapi, seperti virus yang menyebar lewat grup WhatsApp anak-anak pejabat, kini jumlah lapangan di Kota Semarang diproyeksikan mencapai 44 unit hingga akhir 2025, sementara seluruh Jawa Tengah bakal dikepung 80 lapangan lebih.
Bayar lunas tagihan KPR? Belum tentu. Tapi booking lapangan padel? Itu prioritas utama sekarang bagi kalangan anak muda dengan behel di gigi.
Lihat saja Padel Ground di Jalan Dr Wahidin, Candisari, tempat yang dulu mungkin cuma dijadikan parkir dadakan kini berubah jadi oasis olahraga.
Atau Laparaga Sports Center di Jalan Puspowarno, Semarang Barat, di mana para pebisnis lokal bergantian memukul bola sambil membahas jatah proyek penunjukan langsung dari Pemkot Semarang.
Tak ketinggalan Mesa Padel di Jangli, yang menawarkan pemandangan kota dari ketinggian, seolah-olah pukulan smash salah satu pemain yang juga mantan tim sukses di Pilwakot Semarang, bisa menyapu masalah kemacetan di Semarang bawah sana.
Harga sewanya? Mulai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per jam, cukup untuk membeli nasi goreng keluarga seharian.
Olahraga yang katanya inklusif ini malah terasa seperti klub eksklusif, di mana dompet tebal jadi tiket masuk utama. Di media sosial, padel tak lagi sekadar pukul bola; ia jadi “Tinder baru” untuk cari koneksi.
Ada pula yang jual raket padel second sambil curhat kondisi akhir bulan, seolah-olah memukul bola kecil bisa mengusir kekhawatiran tagihan listrik dan mahalnya harga ayam potong di pasaran. Dan jangan lupa, panas Semarang yang mencapai 36 derajat membuat sesi padel jam siang terasa seperti ujian survival: keringat bercucuran, tapi senyum tetap lebar karena “ini kan lagi hits”.
Transisi dan Kebosanan Urban
Tapi lihat saja bagaimana lapangan futsal yang dulu ramai kini sepi, banyak diubah jadi padel. Futsal, olahraga egaliter yang bisa dimainkan pakai kaus oblong basah keringat, kini tersingkir oleh padel yang menuntut raket khusus dan sepatu anti-slip impor. Seolah-olah Semarang bilang, “Futsal? Itu masa lalu. Sekarang, kita main yang ada pagar kacanya dan ada coffee shop, biar terlihat mewah.”
Tapi di balik kilauan itu, ada ironi halus: sementara elit bergaul lewat bola kecil, warga pinggiran masih bergulat dengan urban heat island yang membuat Semarang panas membara. Penjual ayam geprek susah menghabiskan dagangannya karena ekonomi lesu, ditambah sengatan matahari lebih pedas dari sambel level 9.
Padel katanya sehatkan jantung, tapi apakah ia sehatkan kota? Lapangan baru bermunculan, tapi drainase banjir dan jalan masih bolong-bolong. Seperti berita lanjutan yang tak pernah selesai: tren naik, tapi masalah lama tetap mengintai.
Tak berhenti di situ, padel juga jadi cermin masyarakat Semarang yang sedang transisi dari kota perdagangan ke kota gaya hidup. Komunitas lokal mulai bergerak cepat, sejak kepengurusan PBPI Jateng terbentuk, agenda turnamen 2025 memang padat. Tapi tren ini tak luput dari bayang penurunan nasional: setelah meledak di Jabodetabek dan Bali dengan 133 lapangan tahun ini, padel mulai lesu karena biaya tinggi dan kebosanan urban.
Di Semarang, apakah ia akan bertahan? Atau cuma gelembung yang pecah saat musim hujan datang lagi? Postingan di X soal konversi lapangan futsal ke padel seperti peringatan halus: jangan sampai olahraga hits ini cuma bikin futsal mati suri, tanpa lahirkan generasi atlet baru yang benar-benar tangguh.
Akhirnya, saat senja menyelimuti lapangan Padel dan bola terakhir dipukul dengan gemuruh tepuk tangan, Semarang seolah berbisik: ayo, ikutlah tren ini. Bukan karena raketnya mahal atau pagar kacanya kinclong, tapi karena di balik hiperbola keringat dan ironi dompet kering, padel mengingatkan kita pada satu hal sederhana, hidup terlalu pendek untuk tak memukul bola sesekali.
Tapi ingat, kalau banjir datang lagi, jangan salahkan padel; salahkan saja kita yang lupa memukul isu lingkungan sekeras smash anak pejabat yang memamerkan skill di depan gebetannya.
Siapa tahu, besok lapangan berikutnya dibangun di atas lahan rob, setidaknya, kita bisa main sambil mancing ikan lele di sela set. Selamat berkeringat, Semarang. Dan jangan lupa bawa dompet tebal.(HS)