HALO KENDAL – Sebuah kedai angkringan di Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, mencoba menawarkan konsep yang berbeda untuk membuat nyaman para pengunjungnya.
Kedai yang dinamakan Angkringart tersebut memajang ratusan benda antik yang merupakan koleksi pribadi dari sang pemilik.
Kedai tersebut memang beda dibanding kedai atau kafe lainnya, karena memiliki interior berupa barang-barang antik. Ibarat memasuki sebuah museum barang antik, hal itu yang dirasakan pengunjung saat memasuki Angkringart.
Nampak dari ruang depan, terpajang telepon umum koin tua, yang dipadukan dengan berbagai meja kursi antik serta lampu-lampu kuno. Sehingga menambah desain vintage Angkringart tersebut.
Di dalam ruangan lainnya, sang pemilik Setiawan juga memajang sepeda antik, kamera analog, kaset vinyl, radio kuno, jam dinding kuno hingga miniatur lainnya, yang menambah setiap ruangan menjadi astetik dan instagramable.
Setiawan merupakan seorang arsitek yang mengaku gemar mengumpulkan barang-barang antik sejak dirinya duduk di bangku kuliah di Yogyakarta. Kemudian dengan keahliannya, dirinya sedikit memodifikasi barang-barang kuno miliknya.
“Ya barang-barang antik itu saya kumpulkan, karena banyak orang menganggap barang tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Padahal barang-barang kuno tersebut memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi jadi saya rawat. Selain itu perlu diperkenalkan kepada generasi muda,” ungkapnya kepada halosemarang.id, Jumat (29/9/2023).
Setiawan yang telah dikenal sebagai arsitek dengan karya arsiteknya yang pernah dibeli dengan harga Rp 60 juta tersebut mengaku mendesain sendiri seluruh ruangan di kedai miliknya.
“Saya awalnya iseng membuat kedai Angkringart ini, sekaligus sebagai pelengkap saat saya menerima klien yang datang untuk memesan desain bangunan. Ya buat income tambahan lah,” jelasnya.
Meski berada jauh dipelosok Desa Penjalin dan jauh dari kota, namun Angkringart yang baru berdiri sekitar setengah tahun tersebut, menurutnya sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung terutama anak muda.
“Ya karena masih baru jadi belum begitu ramai. Biasanya yang kesini banyakan anak muda. Kita buka juga dari jam empat sore sampai sebelas malam,” beber Setiawan.
Untuk menu yang disajikan di Angkringart, lebih didominasi dengan makanan dan minuman dengan bumbu rempah-rempah. Bahkan ada yang unik yakni nasi rempah dan minuman rempah dari bunga telang.
“Spesialnya nasi bunga telang dan wedang bunga telang yang kita racik sendiri, bahannya dari bunga telang yang kita juga tanam sendiri,” jelasnya. (HS-06)