HALO CILACAP – Masyarakat Kabupaten Cilacap perlu terus diingatkan dan mendapat edukasi, bahwa tempat mereka berdiam masuk wilayah rawan bencana, termasuk gempa bumi dan tsunami.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Syamsul Auliya Rachman, ketika menghadiri Simulasi Penanganan Bencana Tsunami, di Desa Welahan Wetan Kecamatan Adipala, Sabtu (22/10/2022).
Kegiatan yang digelar NU Cilacap Peduli bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap itu, diikuti ratusan orang, termasuk relawan dan masyarakat.
Menurut Syamsul, kesuksesan mitigasi bencana membutuhkan partisipasi pentahelix, yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media massa.
“Oleh karena itu masyarakat perlu terus diedukasi. Dalam hal ini media massa juga berperan. Sajikan informasi yang edukatif, sehingga tidak menimbulkan kepanikan,” kata Syamsul, seperti dirilis cilacapkab.go.id.
Dalam kesempatan itu, Syamsul juga menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cilacap, yang telah berperan menggelar kegiatan ini melalui NU Cilacap Peduli bersama BPBD Cilacap.
Perlu diketahui, Kabupaten Cilacap merupakan wilayah dengan kerawanan bencana tertinggi di Jawa Tengah.
Berbagai ancaman bencana ada di kawasan pesisir ini, mulai dari gelombang tinggi, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, angin kencang, dan kebakaran.
Khusus untuk gempa dan tsunami, warga Pangandaran Jawa Barat dan Cilacap Jawa Tengah, pernah mendapat pengalaman buruk terkait bencana ini.
Saat itu 17 Juli 2006, pukul 15.19 WIB, sebuah gempa bumi dengan magnitudo 6,8, terjadi di Samudra Hindia lepas pantai Jawa Barat, berjarak sekitar 225 kilometer barat daya Kabupaten Pangandaran.
Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 5 meter, yang menghancurkan rumah di pesisir selatan Jawa, menyebabkan setidaknya 668 orang meninggal.
Tsunami menghantam desa-desa di pesisir selatan Jawa Barat di Cipatujah, Tasikmalaya dan Pangandaran, Ciamis.
Adapun untuk wilayah Jawa Tengah, gelombang tsunami menghantam Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Purworejo, serta Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan tingginya kerawanan bencana tersebut, sosialisasi dan mitigasi bencana diperlukan agar ketika terjadi bencana, dampak dan korban jiwa yang timbul dapat diminimalisasi.
Sementara itu Sekretaris NU Cilacap Peduli, Basit Wahid menjelaskan, kegiatan yang dipusatkan di MI Yabakii ini, diawali Upacara Hari Santri di lapangan desa setempat. Selanjutnya, simulasi digelar dengan tiga agenda utama, yakni simulasi bencana tsunami, dapur umum, dan mitigasi spiritual.
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana yang mungkin terjadi. Serta meningkatkan kapasitas relawan dalam penanganan kebencanaan, dapur umum, dan mitigasi spiritual,” jelasnya.
Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Syamsul Auliya Rachman, Ketua DPRD Kabupaten Cilacap Taufik Nurhidayat, Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap Awaluddin Muuri, Ketua PCNU Cilacap Nasrulloh Muchson, beserta pengurus PCNU Cilacap.
Hadir pula pakar tsunami Dr Wijokongko, Kepala Pelaksana BPBD Cilacap Wijonardi, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Cilacap Arida Puji Hastuti, Camat Adipala Teguh Prastowo, personel Basarnas, Tagana, Tim Reaksi Cepat (TRC) Banser Siaga Bencana (Bagana), Palang Merah Indonesia, serta relawan lainnya.
Simulasi ini juga melibatkan siswa siswi MI Yabakii dan warga masyarakat setempat, dengan jumlah sekitar 800 orang.
Selain sosialisasi mitigasi bencana dan kesiapan dapur umum, kegiatan kali ini juga menekankan mitigasi spiritual yang disampaikan oleh Ketua PCNU Cilacap, KH. Drs. Nasrulloh Muchson.
Dalam kesempatan itu, Nasrulloh Muchson mengatakan masyarakat perlu meyakini bahwa bencana terjadi atas kehendak Allah Swt.
Meski demikian, masyarakat harus memperkaya literasi melalui edukasi agar dampak bencana dapat ditekan.
Hal senada juga disampaikan Pakar Tsunami, Dr. Wijokongko. Menurut dia, kajian ilmiah dapat menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil kebijakan upaya mitigasi bencana. Sehingga masyarakat makin tangguh menghadapi ancaman bencana. (HS-08)