HALO BOYOLALI – Rendahnya angka kunjungan wisata dari warga Indonesia ke sejumlah candi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, termasuk Borobudur dan Prambanan, menimbulkan keresahan bagi banyak pihak, terutama yang berkecimpung dalam kepariwisataan.
Hal itu diungkapkan Commercial Group Head Injourney Destination Management, Yusuf Eko Nugroho, dalam Seminar cagar budaya yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, di Pendopo Gede Kabupaten Boyolali pada Rabu (27/8/2025).
Seminar yang diikuti oleh para kepala sekolah itu, dibuka oleh Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Dwi Fajar Nirwana.
Lebih lanjut Yusuf Eko Nugroho mengungkapkan, dipilihnya Kabupaten Boyolali untuk Seminar Cagar Budaya ini, karena letak geografisnya yang relatif dekat dengan Candi Borobudur di Magelang dan Candi Prambanan di Klaten.
Kedua candi tersebut, ditambah Candi Ratu Boko, masuk dalam pengelolaan Injourney Destination Management, atau dulu lebih dikenal dengan Taman Wisata Candi.
Dalam kesempatan itu, dia pun mengungkapkan keresahannya, yakni sejak adanya pandemi Covid 19, pengunjung anak-anak dan pelajar tanah air turun drastis di candi-candi tersebut.
Padahal kunjungan wisatawan asing, sangat tinggi hingga 3.000 pengunjung tiap harinya, terlebih saat musim panas.
Yusuf menduga, rendahnya tingkat kunjungan dari wisatawan dalam negeri itu, dipengaruhi oleh rumor yang beredar, tentang harga tiket masuk Borobudur yang mencapai Rp 700 ribu.
Padahal untuk harga tiket dewasa, hanya sebesar Rp 50 ribu dan pelajar Rp 25 ribu untuk masuk ke pelataran.
Jika ingin menaiki candi, akan dikenakan tarif tambahan Rp 70 ribu untuk dewasa dan Rp 50 ribu untuk anak sebagai biaya guide serta mendapat sandal khusus dan tas yang sekaligus sebagai souvenir hasil UMKM masyarakat sekitar candi.
Ia menambahkan, kondisi lingkungan Candi Borobudur pun sudah lebih bersih dan tertib, karena pedagang yang dulu di dalam candi sudah dipindahkan di pintu masuk dan keluar.
“Kenapa pentingnya anak-anak muda sekarang harus mengetahui tentang warisan budaya kita, karena ternyata di relief-relief ini sangat banyak pelajaran-pelajaran yang bisa menjadi tauladan bagi kita semua.” ujar Yusuf.
Sementara itu Plt Kepala Disdikbud Kabupaten Boyolali, Muhammad Arief Wardianta, mengatakan cagar budaya merupakan jejak peradaban, sumber pengetahuan dan identitas bangsa yang tidak ternilai harganya.
Pengenalan cagar budaya kepada siswa sangat penting untuk memperluas wawasan tentang sejarah, selain itu untuk menumbuhkan cinta tanah air, kebanggaan terhadap budaya bangsa dan kepedulian untuk melestarikannya.
“Sehingga sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk pembentukan karakter dan penguatan identitas budaya dengan melihat peninggalan adiluhung dari bangsa kita.” katanya.
Wabup Fajar, ketika membuka Seminar Cagar Budaya tersebut, mengatakan tantangan di era globalisasi dan digitalisasi sekarang adalah bagaimana menghadirkan cagar budaya, dengan dekat dan relevan kepada generasi muda, jangan sampai budaya hanya dianggap kuno tetapi harus menampilkan cagar budaya sebagai sumber inspirasi.
Menurutnya, pendidikan dan budaya saling bertaut, dimana pendidikan menjaga keberlanjutan budaya dan budaya menjadi jiwa dari jiwa pendidikan.
Pihaknya berkata, seminar ini akan menjadi ruang untuk memperkuat sinergi itu sekaligus mencari cara kreatif menghadirkan cagar budaya ke ruang kelas bukan hanya sebagai mata pelajaran tetapi juga sebagai nilai hidup.
“Kita jadikan seminar ini sebagai ikhtiar bersama bahwa warisan leluhur kita akan senantiasa tetap hidup didalam generasi muda. Mari kita jaga, kita rawat, dan kita jadikan cagar budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pendidikan anak-anak di Kabupaten Boyolali,” ujar Wabup wanita pertama di Kota Susu tersebut. (HS-08)