in

Merapi Memang Terlihat Tenang, Tetapi ……

Pemantauan aktivitas Gunung Merapi dari Pos Pengamatan di Babadan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. (Foto : magma.vsi.esdm.go.id)

 

HALO SEMARANG – Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Sleman DIY, serta sejumlah wilayah di Jateng, yakni Magelang, Boyolali, dan Klaten, Kamis (16/3/2023) nampak tenang.

Dari pemantauan Badan Geologi Kementerian ESDM, yang dilakukan pukul 06.00 hingga 12.00 dari pos Babadan, gunung tersebut terlihat jelas, namun pada saat-saat tertentu juga tertutup kabut.

Dari kawah utama juga muncul asap putih tipis, setinggi sekitar 50-100 meter dari puncak, menggambarkan gunung berapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istemewa Yogyakarta itu seolah-olah tenang.

Namun di balik “ketenangan” tersebut, Gunung Merapi ternyata tak benar-benar diam.

Setidaknya aktivitas Merapi itu terlihat dari masih adanya gempa dan guguran. Dari pemantauan Badan Geologi, terdapat 43 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-28 mm dan lama gempa 34.5-143.2 detik.

Selain itu juga 12 kali gempa hybrid atau fase banyak, dengan amplitudo 3-12 mm, dan lama gempa 5.1-8.1 detik.

Juga terjadi 3 kali gempa vulkanik dangkal, dengan amplitudo 33-55 mm, dan lama gempa 9-10 detik.

Gempa Tektonik Jauh juga terjadi sekali dengan amplitudo 3 mm, dan lama gempa 94.6 detik.

Dengan aktivitas seperti ini, Gunung Merapi yang kini berstatus level III atau siaga tersebut, masih menyimpan potensi bahaya, yakni berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer. Juga di sekitar Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Pada sektor tenggara, wilayah bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Adapun jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dari Merapi dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

Maka dari itu, Badan Geologi tetap meminta agar masyarakat tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.

Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi, serta mewaspadai bahaya lahar terutama, saat terjadi hujan di seputar G Merapi.

Wedus Gembel

Salah satu bahaya dari letusan gunung berapi, adalah muntahan pyroclastic material, berbentuk awan panas.

Sebutan pyroclastic, sebenarnya berasal dari kata pyro yang dalam bahasa Inggris berarti sesuatu yang berhubungan dengan api dan clastic atau bebatuan.

Adapun dalam bahasa Indonesia, pyroclastic flow atau aliran awan panas ini, dalam kasus Merapi sering disebut sebagai “Wedhus Gembel”.

Menurut rilis yang pernah disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui esdm.go.id, pada 27 Oktober 2010 silam, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta kala itu, Subandriyo, mengatakan sebutan wedhus gembel disematkan karena gerakan dari muntahan Merapi tersebut bergumpal-gumpal dan berwarna keputihan.

Gerakan bergumpal-gumpal itu mirip bulu domba berbulu lebat, yang dalam bahasa Jawa memang disebut wedhus gembel.

Secara umum kandungan “Wedhus Gembel” yang memiliki nama ilmiah pyroclastic density flow adalah zat padat dan gas, yang bercampur dengan udara.

Zat padat dalam aliran piroklastik tersebut adalah berupa debu vulkanik dengan ukuran mulai dari ash (debu) sampai lapili (2–64 mm).

Selain itu juga gas berupa CO2, sulfur, chlor, uap air, dan lainnya, yang bercampur udara.

Pada Gunung Merapi, awan panas terbentuk oleh mekanisme guguran lava baru, sering disebut “nuee ardante d’ avalance“.

Awan panas jenis ini akan mengalir melalui zona lembah sungai dan kanan / kirinya, mengikuti arah aliran dari luncuran lava pada dasar lembah.

Masih menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), suhu wedhus gembel itu bisa mencapai 1.000 sampai 1.100 derajat Celsius saat keluar kawah.

Surono, ahli geologi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menyebut ketika material vulkanik itu turun dan masuk ke permukiman, suhunya memang mengalami penurunan.

Namun itu juga tidak berarti suhu wedhus gembel menjadi sekadar hangat, melainkan masih sangat panas untuk ukuran manusia dan makhluk hidup lainnya, yakni sekitar 500 sampai 600 derajat Celsius.

Upaya melarikan diri dari serbuan wedhus gembel ini juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Hal itu karena laju kecepatan luncuran material panas tersebut bisa mencapai 200 kilometer per jam.

Sementara kecepatan kendaraan bermotor yang melalui jalur evakuasi, tidak mungkin dapat mencapai lebih 100 kilometer per jam.

Dalam situs volcanolive.com, pakar vulkanologi John Seach menyebutkan, Merapi merupakan satu gunung yang paling aktif dan berbahaya di dunia.

Merapi memiliki kubah lava dan selalu meletus dalam jangka satu sampai lima tahun, menjadikannya gunung paling aktif di Indonesia.

John Seach telah mendokumentasikan aktivitas 180 gunung di seluruh belahan bumi, dan menurutnya Merapi menghasilkan awan panas lebih banyak dari gunung mana pun di dunia.

Dalam situsnya Seach juga mengungkapkan bahwa gerakan awan panas Merapi mencapai 7 hingga 13 kilometer dari puncak. Sehingga warga yang berada pada radius tersebut harus segera menjauhi puncak dan mencari lokasi yang aman bila aktivitas Gunung Merapi meningkat.

Sejarah Letusan

Berdasarkan sejarah, gunung ini telah berkali-kali meletus. Warga DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, terutama bagian selatan, tentu masih ingat kisah wafatnya Mbah Maridjan, juru kunci Merapi.

Pada hari nahas itu, yakni 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer.

Gulungan awan panas atau wedhus gembel tersebut meluncur turun, melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim.

Akibatnya sang Juru Kunci Merapi tersebut, bersama sejumlah warga yang bertahan di tempat itu tak dapat menyelamatkan diri.

Gunung Merapi juga pernah meletus pada 8 Juni 2006 pukul 09:03 WIB, membuat ribuan warga di wilayah lereng panik dan melarikan diri ke tempat aman.

Saat itu pemerintah meminta 17 ribu warga di lereng Merapi untuk mengungsi. Jatuh 2 orang korban yang berlindung dalam bunker di Kawasan Wisata Kaliadem, Kaliurang.

Sejarah mencatat letusan besar Merapi terjadi pada 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Pada 1930, “Wedhus Gembel” memakan korban 1.370 orang di 13 desa di sekitar Merapi.

Letusan terbesarnya terjadi pada 1006 yang menyebabkan seluruh Jawa tertutup abu.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Gunung Merapi mulai aktif sejak tahun 1006 saat terjadi letusan pertamanya (yang tercatat).

Rata-rata Merapi meletus dalam siklus pendek yang terjadi setiap antara 2 – 5 tahun dan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun.

Siklus terpanjang pernah tercatat setelah mengalami istirahat selama lebih dari 30 tahun, yaitu pada masa awal keberadaannya sebagai gunung api. Memasuki abad ke-16, siklus terpanjang Merapi dicapai selama 71 tahun ketika jeda ketika meletus pada tahun 1587 dan meletus kembali di 1658.

Hampir setiap letusan Gunung Merapi, terutama sejak diamati dengan seksama pada tahun 80-an, selalu diawali dengan gejala yang jelas.

Secara umum peningkatan kegiatan diawali dengan terekamnya gempabumi vulkanik-dalam (tipe A) disusul kemudian munculnya gempa vulkanik-dangkal (tipe B) sebagai realisasi migrasinya fluida ke arah permukaan.

Ketika kubah mulai terbentuk, gempa fase banyak (MP) mulai terekam diikuti dengan makin besarnya jumlah gempa guguran akibat meningkatnya guguran lava. Dalam kondisi demikian, tubuh Merapi mulai terdesak dan mengembang yang dimonitor dengan pengamatan deformasi. (HS-08)

TNI dan Polri Beri Trauma Healing untuk Siswa SD di Boyolali Dekat Puncak Merapi

Hadiri Kuliah Umum di Unissula Semarang, Sandiaga Ingatkan Pentingnya Peningkatan Pelayanan Kesehatan