HALO SEMARANG – Bagi Ali, warga yang tinggal di Odessa, kota terpadat ketiga di Ukraina, perang bukan merupakan sesuatu yang baru baginya.
Bahkan sebelum Rusia melakukan invasi ke Ukraina, dia sudah cukup kenyang pengalaman menghadapi situasi perang.
Lelaki yang memiliki toko pakaian kecil di Odessa itu juga bukan warga asli Ukraina, melainkan lahir di Afghanistan.
“Dua puluh empat tahun yang lalu, orang tua saya membawa saya dan saudara lelaki, serta perempuan saya, pindah dari Afghanistan. Kami melarikan diri dari perang dan penganiayaan. Negara ini (Ukraina) menjadi rumah baru kami,” kata Ali, seperti dirilis news.un.org.
Pengalaman buruk hingga ancaman terbunuh dalam perang Afghanistan, membuat Ali memahami dampak mengerikan, terutama bagi warga sipil, ketika Rusia menginvasi Ukraina.
Karena itulah segera setelah Rusia menyerang Ukraina, Ali dan istrinya, pemilik toko pakaian kecil di Odessa, mulai terlibat dalam pekerjaan bantuan.
Mereka menyumbangkan pakaian kepada orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik.
Dia mengatakan kepada UN News, tentang pekerjaannya untuk organisasi bantuan The Tenth of April, yang bekerja bersama Badan Pengungsi PBB, UNHCR, di Ukraina.
UNHCR membantu orang-orang yang apartemennya rusak akibat ledakan yang mematikan di Odessa, Ukraina.
“Kami lebih prihatin dan khawatir terhadap situasi di Ukraina, dibandingkan di Afghanistan, dan kami berusaha membantu sebanyak yang kami bisa,” kata dia.
“Pada saat negara sangat membutuhkan bantuan, kita perlu terlibat dan melakukan sesuatu yang baik,” sambungnya.
Saat ini Ali berupaya mati-matian untuk membantu orang-orang yang menderita, akibat penembakan di wilayah Odessa.
“Kami mendistribusikan bantuan kemanusiaan, yang sangat diperlukan bagi masyarakat yang terkena dampak,” kata dia.
Lebih lanjut Ali menuturkan, setiap hari dia melihat semakin banyak orang yang mencari bantuan.
“Saya bisa berbicara beberapa bahasa. Jadi saya bisa bekerja dengan The Tenth of April, untuk membantu para pengungsi dan pencari suaka yang sebelumnya melarikan diri ke Ukraina untuk mencari perlindungan. Saya sekarang terlibat sebagai pekerja sosial dan ahli logistik,” kata dia.
Kehancuran Garis Depan
Apa yang terjadi di desa-desa dekat garis depan sungguh mengerikan. Semuanya rusak di sana, rumah-rumah hancur. Orang-orang hampir tidak bisa bertahan hidup di sana.
“Rasa syukur di mata orang-orang paling menginspirasi saya. Karena itu, saya melupakan rasa lelah,” kata dia.
Ali pun menuturkan, seorang gadis, pengungsi dari sebuah keluarga di Kherson, pernah memberinya pita kuning-biru, yang dia buat sendiri.
“Itu sangat menyentuh hati saya. Saat-saat seperti itu sungguh tak terlupakan,” kata dia.
Lebih lanjut Ali berkisah, anggota staf organisasi The Tenth of April ini, mendukung keluarganya ketika menjadi pencari suaka di Ukraina. Hal itulah yang membuat dia bisa melihat, betapa berkomitmennya The Tenth of April terhadap pekerjaan mereka.
“Istri dan putra saya yang berusia 15 tahun tidak ingin meninggalkan Ukraina dan berusaha membantu semampu mereka,” kata dia.
Bantuan UNHCR
PBB memperkirakan 18 juta orang akan membutuhkan bantuan kemanusiaan tahun ini.
Kebutuhan kemanusiaan sangat mendesak bagi para pengungsi internal yang telah lama meninggalkan rumah mereka dan bagi mereka yang tetap berada di garis depan selama perang.
Badan Pengungsi PBB, UNHCR, bekerja sama dengan 29 organisasi mitra, seperti The Tenth of April, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan di seluruh Ukraina.
Dengan dukungan para donor, UNHCR bertujuan untuk membantu 3,6 juta orang di Ukraina pada tahun 2023. (HS-08)