in

Mengenal Tasripin, Konglomerat Asal Semarang Yang Memiliki Kapal Sendiri

Foto ilustrasi.

DI Kota Semarang pernah ada seorang tuan tanah sekaligus pengusaha kulit pribumi yang kaya raya bernama Tasripin. Namanya dan kisah kejayaannya sangat terkenal di mata masyarakat Kota Semarang, karena banyak aset bangunan dan tanahnya yang bertebaran di sepanjang Jalan Bojong (Sekarang Jalan Pemuda), kampung-kampung Jalan Mataram, dan di banyak tempat lainnya.

Tasripin hidup pada era kolonial Belanda sekitar akhir abad 18 hingga awal abad 19. Era itu, memang ada dua orang kaya raya yang menguasai sebagian besar lahan di Kota Semarang, pertama Tasripin dan yang kedua adalah Raja Gula Oei Tiong Ham.

Keduanya hidup sezaman, Oei Tiong Ham lahir 19 November 1866 – 6 Juni 1924 di usia 56 tahun, sedangkan Tasripin lahir tahun 1834 dan meninggal tahun 1919 ketika usianya mencapai 85 tahun.

Jika Oei Tiong Ham kaya berkat gula dan candu, Tasripin lebih memilih bisnis yang lebih aman seperti pabrik kulit hewan ternak, pabrik kapas, kopra dan properti. Peninggalan Tasripin masih bisa ditemui di Kampung Kulitan yang berada di Jalan MT Haryono, Semarang Timur.

Pakar Sejarah Semarang, Amen Budiman pernah menuliskan, bahwa aset tanah milik Tasripin tersebar di beberapa perkampungan Semarang, di antaranya Kampung Kulitan, Gandekan, Gedungbobrok, Jayenggaten, Kepatihan, Pesantren, Sayangan, Kebon Kenap, Wotprau, Demangan, Bang Inggris, Kampung Cokro, Kampung Bedug, dan lain-lain. Selain bisnis yang terkait dengan kulit, keluarga Tasripin juga mempunyai pabrik es. Menurut koran Bataviasch Nieuwsblad (30/8/1910), Amat Tasan bin Tasripin membuka pabrik es batu di Karreweg (kini Jalan Cipto Mangunkusumo), Semarang. Pabrik tersebut menghasilkan 800 pon es sehari. Tiap pon dijual 2 sen.

Tasripin kopnon juga memiliki kapal sendiri untuk mengirim kopra kapas ke negara-negara Asia saat pelabuhannya masih ada di sepanjang Kali Semarang. Tasripin dikenal dekat dengan pemerintah kolonial Belanda.

Cerita tentang kejayaan Tasripin rupanya terdengar hingga Negeri Belanda. Karena kedekatannya, oleh Ratu Belanda Wilhelmina, dia diberikan sejumlah uang koin yang di kedua sisinya ada gambar wajah sang ratu.

Untuk mengapresiasi pemberian itu, Tasripin memasang beberapa uang koin itu di lantai rumah miliknya. Karena adanya uang koin ini, para serdadu Belanda tak pernah sekalipun menggeledah aset rumah milik Tasripin. Itulah mengapa Tasripin sebagai orang pribumi, bisa mengembangkan bisnisnya di masa kolonial Belanda.

Koran Algemeen Handelsblad tahun 1919 pernah mencatat kekayaan Tasripin mencapai 45 juta Gulden atau sekitar Rp 411 triliun. Omzetnya berkisar antara 35 hingga 40 ribu gulden atau setara dengan Rp 320 juta per bulannya. Semua kekayaan yang diperolehnya berasal dari usaha rumah jagal yang berada di Kampung Bleduk. Dari usaha rumah jagalnya ia memanfaatkan kulit hewan ternak untuk kebutuhan pengembangan wayang kulit. Bahkan Tasripin juga memiliki kapal yang digunakan untuk ekspor. Kapal tersebut beroperasi ketika Kali Semarang masih bisa dilalui kapal dan jembatan Berok masih bisa dibuka tutup.

Selain itu kisah tentang sumber kekayaan Tasripin juga pernah masuk dalam Koran De Locomotief tahun 1902. Di dalamnya tertulis bahwa Tasripin memiliki izin untuk menyembelih ternak di tempat penjagalannya di Kampung Beduk. Tasripin tak hanya memiliki usaha di bidang kulit, tapi juga melakukan bisnis di bidang kopra, kapas, hingga properti.

Peninggalan Tasripin

Tasripin konon juga sempat membeli sejumlah tanah orang Belanda untuk pengembangan bisnisnya. Di antaranya di daerah Jeruk Kingkit, Kampung Kulitan, Pederesan, Wot Prau, Gendingan, dan lainnya. Sebagian tanahnya juga digunakan untuk tempat tinggal para pekerjanya yang berasal dari pinggiran Semarango.

Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 11 Agustus 1919 melaporkan bahwa Tasripin wafat pada pukul 10.00 tanggal 9 Agustus 1919, pada usia 85 tahun. Salah satu putranya yang paling terkenal bernama Amat Tasan dan dianggap sebagai pengganti Tasripin. Dalam koran Soerabaijasch Handelsblad tertanggal 27 Agustus 1937, dituliskan bahwa Amat Tasan tutup usia pada tahun 1937 di usia 72 tahun.

Kekayaaan keluarga Tasripin pun yang dulunya menggunung, dari tahun ke tahun berangsur habis, dan kini hanya menyisakan aset-aset kecil. Khususnya setelah Amat meninggal dunia, perlahan usahanya menurun dan tidak ada yang meneruskan. Badan usahanya yang bernama Tasripin Concern terakhir eksis sekitar tahun 1950-an.

Walaupun kisah kejayaan Tasripin sudah berlalu, namun jejak-jejaknya masih bisa ditemukan hingga kini. Salah satunya adalah sebuah masjid yang berada di Kampung Kulitan, Semarang, yang bernama Masjid At-Taqwa.

Karena masih ada hubungannya dengan konglomerat pribumi itu, masjid tersebut juga dikenal dengan nama Masjid Tasripin. Menurut keterangan warga sekitar, dulunya masjid itu adalah sebuah langgar yang khusus dibangun sebagai tempat ibadah keluarga Tasripin dan juga para pekerjanya.

Menurut cerita, ada ciri khas khusus yang menandakan keturunan Tasripin. Generasi awal Tasripin selalu menyematkan kata “Tas” pada namanya contohnya pada nama Tas Sekti yang merupakan mertua dari Menteri Agama era Orde Baru yakni Munawir Sjadzali. Namun pada masa sekarang, keturunan Tasripin hidup seperti masyarakat biasa.

Selain berupa properti, Tasripin juga meninggalkan aset berupa dua peti wayang dan gamelan. Kini aset kekayaan Tasripin yang dahulu menggunung hanya menyisakan aset-aset kecilnya saja karena tidak ada kerabat yang meneruskan usahanya.(HS)

Ini Dia Label Halal Indonesia yang Berlaku Nasional

Ganjar Dukung Revitalisasi Keraton Jadi Pusat Kebudayaan