BAGI masyarakat yang pernah melintas di Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, tentunya akan mudah melihat sebuah bangunan dua lantai yang dulunya dipakai sebagai Studio Foto Gerak Cepat. Bangunan ini kini termasuk salah satu sebagai bangunan Cagar Budaya melalui Keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/Tahun 1992. Pada zamannya dulu, menurut warga sekitar merupakan bangunan rumah megah dua lantai dan kokoh.
Lokasinya tepat berada di ujung Jalan Layur, Kawasan kampung Melayu Semarang setelah Masjid Layur. Untuk menuju lokasi tidak terlalu sulit karena nampak saat ini tidak terawat, banyak ditumbuhi rerumputan liar di sela-sela tembok dindingnya yang mulai terkelupas dan berlumut. Meski begitu, bangunan studio foto Gerak Cepat, adalah bangunan legendaris pada masanya. Dibuka pada sekitar tahun 1970- an, di Kota Semarang.
“Kira -kira 20 tahun lalu, di awal tahun 2000- an. Saya sempat melihat masih dipakai untuk studio foto. Bahkan, saat saya sekolah dasar (SD) ada upacara atau kegiatan di sekolahnya, anak-anak banyak yang pinjem baju adatnya di sini,” kata salah satu warga Layur, Edi (36) saat ditemui di lokasi, Senin (27/6/2022).
Anak-anak sekolah di sekitar sini, juga ada yang pinjem kebaya untuk ada acara pas Hari Kartinin di sekolahnya. “Selain untuk studio photo, dulu juga menyewakan pakaian adat untuk pengantin, rias pengantin, dan sewa pelaminan, serta dekorasi. Kalau dulu pelaminan pengantin umumnya pakai kebyok kayu, lalu dihiasi bunga asli. Sekarang kan sudah modern pakainya dominan pakai sterofoam dan bunganya kertas, “ujarnya.
Ditambahkan Edi, bangunan lantai dua ini dulunya kokoh dan megah. Diantara rumah warga, dan tempat usaha. “Kalau masuk ke studio photo didalamnya sudah dipetak, petak. Setiap sekat adalah dibuat studio foto dengan background pemandangan yang berbeda-beda, “terangnya.
Di dalam studio photo, dijelaskan Edi, terdapat taman, ada hiasan air mancurnya juga. “Sekarang studio foto sudah tutup, tapi masih ditempati keluarganya dari pemilik rumah. Selain itu sampai saat ini masih untuk usaha jualan air juga, “imbuhnya.
Sementara, saat ditemui, Nurul Hidayah (54) yang mengaku generasi kedua Pemilik Studio Foto Gerak Cepat menceritakan, bahwa studio ini dibuka oleh ayahnya Ali Mahroos pada tahun 1970. Selain dipakai untuk studio foto juga tempat usaha jual air ledeng.
“Sampai sekarang rumah saya masih menjual air. Ada 4 orang yang membeli air ledeng di sini, dan kemudian menjualnya lagi ke warung-warung sekitar. Mereka beli air di sini, terus dijual lagi menggunakan gerobak. Tapi sekarang penjualnya libur sejak adanya revitalisasi jalan di Jalan Layur,” jelasnya.
“Kalau menjual air masih ada, tapi yang studio foto berhenti karena rob, sejak sekitar tahun 2010 lalu. Sebelumnya masih buka, karena tempatnya rusak dan bangunannya makin terjadi penurunan tanah,” katanya.
Masalah Rob
Menurut Nunung, nama panggilan akrabnya, untuk memulai usaha studio foto lagi, dirinya merasa sulit. “Karena anak saya tidak minat untuk usaha foto lagi. Dan sekarang sibuk bekerja lainnya. Sekarang gak kuat kalau sendiri,” ujarnya.
Ditambahkan Nunung, semangat usaha studio foto ini yaitu untuk menyenangkan orang lain. “Bapak saya pernah bilang kalau usaha fotonya ini untuk nyenengke orang lain. Kalau hasil fotonya bagus, orang akan seneng. Jadi dulu ada gambar pemandangan di sini. Untuk menggambar background pemandangan di studio fotonya mendatangkan seniman lukis,” ungkapnya.
Tapi karena rob, semua pemandangan yang dibuat dulu kini rusak. “Kalau rob datang, air masuk ke rumah peralatan yang ada akan rusak. Padahal rumah ini dinaikkan ruang tamunya, diperbaiki dua kali, belakang satu kali, dan ruang tengah juga satu kali. Kira-kira dinaikkan satu meter ke atas. Namun tetap terimbas rob,” terangnya.
Dulu, di studio foto ini ramai. Hanya punya saingan satu di wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. “Karena disini juga ada background pemandangan. Orang jadi banyak yang suka,” tambahnya.
Diceritakan dia, biaya foto pada awal mulanya, ukuran 3×4 hitam putih, 4 lembar hanya Rp 250. “Kemudian berkembang lagi menjadi foto kilat hanya butuh satu jam, yang biasanya 2 hari jadi. Selanjutnya berkembang untuk segala ukuran biaya Rp 10 ribu, 4 lembar. Yang hitam putih, mulai ukuran 2×3, 3×3, 3×4, 4×6 semuanya Rp 10 ribu,” paparnya.
Lalu, mulai ada photo warna, satu kali jepretan ukuran 3R, harga Rp 500 satu lembar. Kalau dicetak ulang biayanya Rp 150 perlembar. Terus berkembang lagi ukuran 4 R harga saat itu Rp 750, cetak ulang Rp 200. Lalu, ukuran 3 R, Rp 5000 pada tahun 2000 an. Mulai ada ukuran 5 R, dan 10 R,” katanya.(HS)