in

Menag Sebut Ekoteologi Selaras Ajaran Tri Hita Karana Hindu

Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan arahan pada Malam Puncak Hari Bakti Pertiwi Widyalaya dan pembinaan ASN Kementerian Agama Provinsi Bali, belum lama ini, di Kampus Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kementerian Agama mengembangkan Ekoteologi yang menekankan pentingnya mengembalikan relasi harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam, sebagai fondasi peradaban dan pendidikan keagamaan di Indonesia. Program ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana dalam tradisi Hindu.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Agama (menag) Nasaruddin Umar saat memberikan arahan pada Malam Puncak Hari Bakti Pertiwi Widyalaya dan pembinaan ASN Kementerian Agama Provinsi Bali, belum lama ini, di Kampus Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar.

Menurut Menag, ekoteologi bukan konsep baru bagi umat Hindu. “Ekoteologi itu tidak lain adalah apa yang pernah di istilahkan menjadi Tri Hita Karana,” ujarnya.

Ia menegaskan, manusia tidak mungkin menjadi pribadi utuh tanpa lingkungan yang sehat.

“Kita tidak mungkin bisa menjadi manusia sejati tanpa lingkungan yang sehat, tidak mungkin bisa menjadi hamba, tidak mungkin bisa menjadi khalifah di muka bumi ini kalau lingkungan alam ini rusak. Jika alam ini rusak, maka manusia pun juga rusak,” papar Menag, seperti dirilis kemenag.go.id.

Tri Hita Karana, mencakup tiga relasi utama: hubungan dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan). Nilai tersebut kini menghadapi tantangan dalam praktiknya.

“Tri Hita Karana ini warisan leluhur kita ini ternyata simbolnya masih ada tetapi Aktualisasinya mengalami semacam degradasi,” ucap Menag.

Menag lalu menyoroti kecenderungan pendidikan modern, yang terlalu mengandalkan rasionalitas dan teknologi.

“Salah satu tantangan yang kita hadapi sekarang ini dalam dunia pendidikan kita terlalu banyak terkooptasi oleh pemikiran modern yang terlalu mengandalkan otak kiri,” sebutnya.

Menurut Menag, masyarakat tradisional memandang alam sebagai sahabat, bukan sekadar objek eksploitasi.

“Masyarakat tradisional kita itu menganggap alam ini adalah sahabat, alam ini adalah saudara kita sendiri,” ujarnya.

Karena itu, Kementerian Agama mendorong pendekatan ekoteologi untuk mengembalikan posisi alam sebagai mitra manusia.

“Bahasa agamalah yang bisa menyadarkan manusia untuk mengembalikan posisi alam berbanding lurus dengan kehadiran kita sebagai umat manusia. Ini yang kita kembangkan di Kementerian Agama Ekoteologi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menyampaikan makna dari Kurikulum Cinta. Ia menegaskan bahwa seluruh ajaran agama pada dasarnya bermuara pada cinta.

“Semua agama Intinya adalah cinta Kalau ada agama tidak menganjurkan Cinta itu bukan agama,” terangnya.

Dengan Ekoteologi dan Kurikulum Cinta, Menag mengajak seluruh elemen pendidikan untuk melakukan resakralisasi alam dan membangun generasi yang lebih peka terhadap lingkungan.

“Mari kita melakukan reskralisasi alam semesta ini jangan memandang alam semesta ini hanya pelengkap kehidupan umat manusia. Ini partner kita,” ajaknya.

Menurutnya, semangat inilah yang perlu terus dikuatkan agar hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam kembali selaras dalam kehidupan berbangsa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha, Rektor Universitas Hindu Indonesia 2006–2013 sekaligus Dirjen Bimas Hindu periode 2006–2014 Ida Bagus Gde Yudha Triguna, Rektor Universitas Hindu Indonesia periode 2026–2030 Cokorda Gde Bayu Putra para Wakil Rektor, para Guru Besar, pimpinan fakultas dan lembaga, serta Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar. (HS-08)

 

 

Dugderan 2026 Digelar Lebih Meriah, Semarang Tegaskan Identitas Kota Toleran

Kemenag Gandeng OJK Tingkatkan Kapasitas Fasilitator Literasi Keuangan KUA