in

Memasuki Musim Kemarau, Masyarakat Tetap Diminta Waspada Bencana

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Sepanjang Juli hingga September 2022 dilaporkan sebagai bulan-bulan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi. Masyarakat di Jawa Tengah, juga diingatkan untuk terus waspada terhadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko mengatakan, di beberapa wilayah di Jawa Tengah berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi basah dan kering secara bersamaan.

Dalam hal ini, sepanjang Juli hingga September 2022 ada beberapa wilayah yang berpotensi mengalami masalah banjir, yang bersamaan waktunya dengan potensi kebakaran karena musim kemarau.

“Pada waktu yang bersamaan, kita akan mengalami hidrometeorologi basah, banjir banjir bandang, tanah longsor, sekaligus juga hidrometeorologi kering, kebakaran hutan dan kekeringan,” katanya.

Maka untuk itu, masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana untuk tetap waspada. mitigasi bencana diperlukan, guna menghindari dampak yang parah. Pemprov Jateng, juga diharapkan untuk terus memberikan pemahaman atau peringatan kepada warga yang tinggal di wilayah rawan bencana. Termasuk juga upaya pemetaan dan mengantisipasi dampak bencana alam yang mungkin terjadi.

Semua pihak, katanya, harus menjadi aktor utama penanganan risiko bencana. Mereka dituntut dapat bergerak massif dan berkelanjutan dalam menurunkan risiko bencana maupun mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi.

“Sedangkan untuk masyarakat yang menempati daerah rawan bencana, seperti banjir, harus mulai menyadari cara melakukan mitigasi cepat. Jika hujan telah mengguyur lebih dari satu jam, maka dipastikan hujan sedang berintensitas tinggi. Dengan demikian, masyarakat setempat harus inisiatif mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Keterlambatan Musim Kemarau

Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan musim kemarau tahun ini. Untuk diketahui, kondisi iklim di Indonesia sangat bergantung pada kondisi di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, hasil analisis menunjukkan La Nina masih akan berlangsung hingga pertengahan tahun 2022.

Artinya, potensi peningkatan curah hujan masih dapat terjadi hingga waktu tersebut. Hal tersebut berakibat pada beberapa zona musim di Indonesia, diprediksi akan mengalami keterlambatan memasuki musim kemarau.

BMKG juga memprakirakan bahwa puncak musim kemarau 2020 di sebagian besar wilayah ZOM akan terjadi pada bulan Agustus 2022 sebanyak 181 ZOM (52,9 persen).

Kendati sudah memasuki musim kemarau, bukan berarti tidak akan terjadi hujan di beberapa wilayah. Hasil analisis menunjukkan La Nina masih akan beralngsung hingga pertengahan tahun 2022. Artinya, potensi peningkatan curah hujan masih dapat terjadi hingga waktu tersebut. Hal itu berakibat pada beberapa zona musim di Indonesia yang diprediksi akan mengalami keterlambatan memasuki musim kemarau.(Advetorial-HS)

Pemkab Rembang Pacu Perbaikan Jalan di 25 Lokasi

Naik Egrang, Diki Minta Hadiah Buku pada Ganjar