in

Makna Ketupat di Jawa, dari Ngaku Lepat hingga Laku Papat

 

HALO SEMARANG –  Ketupat selalu menjadi sajian andalan dalam masa perayaan Lebaran.

Tak hanya disajikan pada hari pertama Lebaran, ketupat juga disajikan bakda kupat, Lebaran Ketupat, 7 hari setelah Lebaran.

Di luar hari raya, kupat juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner Nusantara. Sebut saja sajian seperti ketupat sayur dan tahu kupat. Ketupat juga menjadi sajian lezat ketika dinikmati beserta sate padang.

Ternyata ketupat bukan hanya merupakan bagian dari kuliner Indonesia, melainkan juga Asia Tenggara.

Dilansir dari tribratanews.polri.go.id,  ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara Maritim, seperti Malaysia, Brunei dan Singapura.

Ketupat berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa muda (janur) atau dari daun palma yang lain.

Ketupat pertama kali diperkenalkan di Indonesia, saat Islam masuk ke tanah Jawa sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.

Sunan Kalijaga adalah seseorang yang memperkenalkan makanan ketupat, kepada masyarakat dalam rangka berdakwah menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa.

Dari penelitian berjudul “Ketupat as Traditional Food of Indonesia oleh Angelina Rianti”, menuliskan Bakda Lebaran dan Bakda Kupat juga dikembangkan oleh Sunan Kalijaga.

Keduanya memiliki kaitan yang erat dengan ketupat. Selama Bakda Kupat, hampir setiap rumah terlihat ramai dan orang-orang menganyam daun kelapa menjadi ketupat.

Lalu, dimasak dan dibagikan kepada tetangga, keluarga, serta saudara sebagai simbol kebersamaan.

Makna Ketupat

Dalam penyebaran dakwahnya, Sunan Kalijaga menggunakan ketupat dengan filosofi dan makna yang dalam. Ketupat diambil dari bahasa Jawa yang artinya ‘Ku’ (ngaku) yang berarti mengakui dan ‘Pat’ (lepat) yang berarti kesalahan. Sehingga ketupat adalah ngaku lepat atau mengaku bersalah.

Tidak hanya itu, ketupat juga diartikan sebagai laku papat yang terdiri dari empat aksi. Keempatnya yaitu lebaran (pintu maaf dibuka lebar-lebar), luberan (berlimpah), leburan (saling memaafkan), dan laburan (bebas dari dosa-dosa).

Pembuatan ketupat yang harus dianyam dengan rumit juga memiliki makna. Kerumitan anyaman menggambarkan keragaman masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan silahturahmi, sedangkan beras dimaknai nafsu duniawi.

Ada juga yang memaknai rumitnya anyaman adalah beragam kesalahan manusia, sedangkan beras putih di dalamnya dimaknai dengan kesucian hati yang memaafkan kesalahan tersebut.

Sementara itu, daun kelapa muda yang digunakan sebagai pembungkusnya dalam bahasa Jawa disebut sebagai janur.

Ini merupakan akronim dari “Jannah Nur” atau “Cahaya Surga”. Janur juga dianggap merupakan akronim dari “Jatining Nur” atau “Hati Nurani”.

Ada dua bentuk utama ketupat, yaitu kepal bersudut tujuh dan jajaran genjang bersudut enam. Masing-masing bentuk memiliki alur anyaman yang berbeda.

Meskipun muncul dalam berbagai bentuk dan ukuran, varietas yang paling umum adalah ketupat yang berbentuk menyerupai keranjang anyaman kecil.

Ketupat biasanya disajikan dengan opor, sambal goreng atau rendang. Tapi, ada juga makanan khas daerah yang menggunakan ketupat meski tidak hari raya, seperti kupat tahu (Sunda), katupat kandangan (Banjar), grabag (Magelang), kupat glabet (Tegal), coto makassar (Makassar). (HS-08)

6.000 Pemudik Tinggalkan Terminal Kalideres Jakarta Barat

Mobil Pemudik Terbakar di Semarang, Beruntung Tak Ada Korban Jiwa