LEBARAN di Kota Pekalongan tak hanya soal silaturahmi dan maaf-memaafkan. Di sudut-sudut kota batik ini, ada satu penanda yang selalu dinanti kehadirannya: lopis.
Penganan sederhana berbahan dasar beras ketan ini bukan sekadar jajanan. Ia adalah simbol datangnya syawalan, momen puncak perayaan Idulfitri yang bergulir hingga hari ketujuh Lebaran.
Sejak hari kedua Lebaran, suasana kota perlahan berubah. Di sepanjang jalan protokol hingga gang-gang permukiman, pedagang lopis mulai bermunculan. Bahkan, sebagian sudah bersiap sejak sepekan sebelum hari raya tiba.
Bagi warga Pekalongan, kehadiran lopis seperti penanda tak tertulis: libur panjang akan segera usai, dan rutinitas kembali menanti.
Dengan harga yang ramah di kantong, sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per biji, lopis menjadi sajian yang tak hanya terjangkau, tetapi juga sarat makna.
Di Jalan WR Supratman, seorang pedagang bernama Muhsin (52) tampak sibuk melayani pembeli. Sudah lebih dari dua dekade ia menekuni usaha ini, setia hadir setiap musim Lebaran.
Sejak pagi hingga malam, tangannya tak henti membungkus lopis yang ia ambil dari para perajin. Dalam sehari, lebih dari 100 biji bisa terjual.
“Setiap tahun pasti ramai. Lopis ini seperti sudah jadi tradisi, apalagi saat syawalan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Di wilayah Krapyak dan sekitarnya, lopis bukan sekadar camilan. Ia menjadi suguhan wajib saat menerima tamu. Rasanya yang legit, teksturnya yang kenyal, membuatnya selalu hadir di meja ruang tamu. Tanpa lopis, suasana syawalan terasa kurang lengkap.
Secara historis, lopis memang dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Namun Pekalongan disebut sebagai salah satu episentrum kuliner ini sejak ratusan tahun lalu. Di kota ini, lopis bukan hanya soal rasa, melainkan juga tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Di Jalan Agus Salim, pedagang muda Muhammad Ulum (25) membuktikan bahwa tradisi ini tetap hidup di tangan generasi berikutnya.
Ia mengungkapkan, membuat lopis bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran hingga 18–20 jam hanya untuk proses pengukusan.
“Kalau takarannya kurang, hasilnya lembek. Kalau terlalu banyak, jadi keras. Harus pas supaya kenyal, lengket, dan legit,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan kayu bakar masih menjadi pilihan terbaik karena menghasilkan panas yang merata. Selain itu, kualitas beras ketan juga sangat menentukan hasil akhir, di tengah harga yang kini mencapai Rp25 ribu per kilogram.
Lopis biasanya disajikan dengan parutan kelapa, atau dipadukan dengan gula aren cair yang menghadirkan rasa manis gurih yang khas. Bisa dinikmati hangat, atau disimpan beberapa hari sebagai bekal rasa rindu.
Bagi para pemudik, lopis kerap menjadi oleh-oleh sederhana yang sarat makna. Cara kecil untuk membawa pulang suasana Lebaran khas Pekalongan.
Hal itu pula yang dirasakan Berlian (29). Setiap Lebaran, ia selalu menyempatkan diri berburu lopis di kawasan Pekalongan Utara, bahkan membeli hingga belasan biji untuk keluarga.
“Saya suka rasanya yang khas dan selalu bikin kangen. Kalau Lebaran tanpa lopis rasanya ada yang kurang,” katanya.
Di tengah hiruk pikuk arus balik dan rutinitas yang kembali berjalan, lopis tetap hadir sebagai pengingat: bahwa Lebaran bukan hanya tentang hari raya, tetapi juga tentang rasa, tradisi, dan kenangan yang terus hidup dari tahun ke tahun.(HS)