HALO LAMPUNG – Komitmen merawat jejak sejarah dan budaya Jawa di tanah perantauan ditunjukkan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Ia berjanji mengirimkan seperangkat gamelan untuk masyarakat Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, yang mayoritas warganya merupakan transmigran dan keturunan asal Jawa Tengah.
Janji tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat berdialog langsung dengan warga di Balai Desa Bagelen, Rabu (7/1/2026). Suasana dialog berlangsung akrab, diwarnai percakapan berbahasa Jawa yang kental dengan nuansa kekeluargaan.
“Gamelannya nanti akan dikirim oleh Direktur Utama Bank Jateng ke sini,” kata Ahmad Luthfi di hadapan warga.
Menurutnya, bantuan seperangkat gamelan itu bukan sekadar simbol, melainkan bentuk apresiasi sekaligus upaya konkret untuk nguri-uri atau melestarikan sejarah dan budaya leluhur masyarakat Bagelen yang berasal dari Jawa, khususnya Jawa Tengah.
“Itu sumbangan untuk nguri-uri sejarah dan budaya Jawa,” ujarnya.
Ahmad Luthfi menjelaskan, Jawa Tengah dan Lampung memiliki hubungan historis dan sosiokultural yang sangat panjang. Lampung menjadi salah satu tujuan utama program transmigrasi, di mana sebagian besar penduduknya merupakan suku Jawa.
“Saya ingin nlusup jejak sejarah. Di Lampung ini sekitar 60 persen warganya berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah,” ungkapnya.
Ia juga berpesan kepada masyarakat Jawa Tengah di perantauan, khususnya para transmigran, agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, warga yang telah puluhan tahun menetap, bahkan lahir di tanah transmigrasi, telah menjadi bagian utuh dari daerah tersebut.
“Mereka sudah membangun desa di Lampung. Jadi, di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung. Artinya harus bisa menyesuaikan dengan daerahnya masing-masing,” tegasnya.
Sementara itu, bantuan gamelan tersebut menjadi jawaban konkret atas permintaan Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, yang sebelumnya disampaikan saat dialog dengan Gubernur Jawa Tengah.
Merdi mengungkapkan, masyarakat Desa Bagelen berharap adanya kenang-kenangan yang dapat menjadi penghubung budaya dengan tanah asal leluhur mereka di Jawa Tengah.
“Kami berharap ada kenang-kenangan untuk desa kami yang tidak mungkin terlupakan, yaitu seperangkat gamelan,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan gamelan sangat penting untuk menghidupkan denyut kebudayaan di Desa Bagelen. Setiap tahun, warga rutin menggelar pertunjukan wayang kulit dalam rangka peringatan hari jadi desa. Tradisi tersebut tidak pernah terputus sejak Desa Bagelen berdiri pada 1905 hingga 2025.
“Itulah salah satu kebanggaan kami sebagai orang Jawa, bisa terus menghidupkan budaya sambil tetap menghormati kebudayaan lokal yang ada,” pungkas Merdi.(HS)


