HALO KENDAL – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Muhadjir Effendy, menyempatkan diri meninjau Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) di Kawasan Industri Kendal saat melaksanakan kunjungan kerja ke wilayah Kabupaten Kendal, Minggu (12/3/2023).
Dalam kunjungan ke Polifurneka, Muhadjir menyoroti terkait pernikahan dini yang marak terjadi di Indonesia. Hal tersebut ia sampaikan, saat sambutan dalam acara dialog bersama jajaran pengajar dan mahasiswa Polifurnika Kendal.
Menko PMK tersebut mengingatkan, pernikahan dini harus dicegah oleh semua pihak. Menurutnya, mereka yang melakukan pernikahan dini telah terampas perjalanan hidupnya.
“Pak Bupati, di Kendal angka pernikahan dini tinggi ndak? Saya mengajak seluruh pengajar dan juga para mahasiswa di Polifurnika Kendal ini, untuk bersama-sama mencegah pernikahan dini. Karena seusia anda, seharusnya belum bertanggung jawab pada keluarga, istri atau suami, dan anak,” ujar Muhadjir.
Lebih lanjut, Menko PMK menyebut, pernikahan dini berpeluang untuk memunculkan keluarga miskin baru. Menurut dia, para pasangan muda yang belum mapan bisa membawa keluarganya menuju jurang kemiskinan.
“Peluang pernikahan dini melahirkan rumah tangga miskin baru sangat besar. Hampir 50 persen, akibat pernikahan dini. Karena itu, ini harus dicegah betul jangan sampai melahirkan generasi yang lebih buruk dari yang sekarang,” ucapnya.
Muhadjir mengatakan, saat melakukan sebuah pernikahan, perempuan yang masih berusia remaja secara psikologis belum matang, serta belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehamilan dan pola asuh anak yang baik dan benar.
“Para remaja masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun. Nah jika mereka sudah menikah pada usia remaja tahun, misalnya 15 atau 16 tahun, maka tubuh ibu akan berebut gizi dengan bayi yang dikandungnya. Jika nutrisi si ibu tidak mencukupi selama kehamilan, bayi akan lahir dengan berat badan lahir rendah dan sangat berisiko terkena stunting,” tandasnya.
Untuk itulah sebagai Menko PMK, Muhadjir kembali mengingatkan, kondisi keluarga yang mengalami kemiskinan ekstrem dengan keluarga yang memiliki risiko stunting cukup tinggi. Intervensi sensitif dan spesifik untuk mengatasi keduanya mirip.
“Dalam arti intervensi spesifik adalah berkaitan dengan kondisi medis, kesehatan ibu, bayi, dan remaja untuk mencegah stunting. Dan intervensi sensitif seperti sanitasi ketersediaan air bersih, air minum, keterbatasan alat komunikasi atau sarana transportasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Kendal, Dico M Ganinduto dalam sambutannya mengatakan, dirinya sepakat apa yang disampaikan Menko PMK, terkait pencegahan peningkatan stunting.
Menurutnya, percepatan penurunan stunting bisa terwujud dengan sinergitas seluruh stakeholder, dan bekerja dengan maksimal untuk memberantas stunting di Kendal.
“Jangan sampai generasi kita menjadi kurang baik karena stunting, salah satunya dengan pencegahan nikah muda seperti yang disampaikan pak Menko PMK tadi. Maka, kita harus memberikan yang terbaik terutama dalam penanganan stunting, sehingga generasi penerus di Kabupaten Kendal dapat tumbuh dengan baik,” tutur Bupati Kendal.
Dico juga berharap, dengan kerja kolaboratif yang dilakukan Pemkab Kendal dan para stakeholder, akan bisa lebih menekan angka stunting di Kabupaten Kendal hingga sampai zero stunting, dan tercipta SDM masyarakat yang sehat dan sejahtera.
“Jadi perlu saya laporkan kepada Pak Menko PMK, peningatan sumber daya manusia, merupakan salah satu program prioritas dari Pemerintah Kabupaten Kendal. Salah satunya dengan merangkul stakeholder, yang dikolaborasikan dengan Pemerintah Kabupaten Kendal, terutama di bidang UMKM dan Peningkatan SDM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut Bupati Kendal juga meminta kepada dunia pendidikan vokasi, seperti SMK, akademi maupun politeknik, untuk lebih bersifat fleksibel.
Menurutnya, pendidikan vokasi itu tidak hanya menciptakan SDM yang bisa bekerja di bidangnya saja, tapi harus bisa menciptakan calon pemimpin yang bisa melakukan pekerjaan tersebut.
“Jadi jangan hanya diajari hard skill saja, tapi juga soft skill harus diasah. Jadi pimpinan SMK dan perguruan tinggi harus diubah mindset dan cara mengajarnya,” imbuh Bupati Kendal.
Sebelumnya, Direktur Polifurneka Kendal, Tri Ernawati mengatakan, Polifurneka merupakan satu-satunya Politeknik Negeri dengan bidang furnitur dan kayu di Indonesia, yang berstandar global, dengan program studi D III, di antaranya Teknik Produksi Furnitur, Desain Furnitur, dan Manajemen Bisnis Industri Furnitur.
Beberapa konsep kerja sama sudah disampaikan kepada Menkeu Singapura agar bisa dijembatani dengan Singapore Polytechnic. Setelah itu, antar dua Politeknik ini bisa mengembangkan beberapa hal dalam rangka menyediakan SDM industri yang unggul dan kompeten.
Hal tersebut, lanjutnya, dalam rangka menyiapkan SDM untuk menunjang industri, termasuk di bidang furnitur yang menjadi komoditi unggulan Indonesia dalam pasar ekspor.
“Polifurneka diharapkan dapat menyediakan SDM industri yang kompeten, profesional, dan siap kerja di sektor furnitur, untuk mendukung industri furnitur nasional di Indonesia,” ujar Ernawati kepada Menko PMK RI.
Pada kesempatan tersebut Menko PMK didampingi Bupati Kendal, Dico M Ganinduto dan Sekda Kendal, Sugiono melihat langsung hasil karya para mahasiswa Polifurneka berupa produk mebeler.
Selain itu, rombongan meninjau ruang praktik mahasiswa. Di antaranya melihat langsung pengoperasionalan mesin untuk pembahanan, beberapa mesin konstruksi, sending, pengolahan laminasi, dan juga mesin asembeling, yang ada di Kampus Polifurneka Kendal.(HS)