in

Kota Lama, Primadona Wisata Kota Semarang yang Kini Sepi Akibat Wabah Corona

Pemandangan Kota Lama Semarang yang saat ini sepi dari pengunjung akibat Covid-19. Foto dokumen Instagram @kotalamasemarang.

 

HINGAR bingar wisatawan yang biasanya kerap memadati Kota Lama Semarang, beberapa pekan terakhir ini tak lagi nampak. Tak ada lagi pemandangan muda-mudi berfoto di sisi gedung tua, atapun pemandangan wisatawan asing mengagumi gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda itu.

Ya, akibat wabah corona yang melanda Indonesia, Pemkot Semarang sejak bneberapa pekan lalu memang menutup semua tempat wisata, salah satunya Kota Lama Semarang.

Padahal selama ini, setiap hari, khususnya pada hari libur jalan-jalan di Kota Lama dipenuhi wisatawan yang berswafoto atau sekadar jalan-jalan mengelilingi kawasan.

Bangunan tua yang tertata rapi, serta eksotisme tanaman keras yang tumbuh menempel di gedung menjadi daya tarik wisatawan untuk jadi latar belakang foto.

Apalagi setelah ditata oleh Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, penambahan ornamen dan perbaikan jalan kawasan ini menjadi lebih menarik untuk dikunjungi. Kawasan Kota Lama pun bisa dikatakan telah menjadi primadona baru tampat pariwisata di Kota Semarang.

Dengan bantuan anggaran revitalisasi kawasan dari pemerintah pusat, melalui Kementrian PUPR, Kota Lama seakan disulap jadi lebih cantik dibanding beberapa tahun silam.

Sejumlah gedung tua peninggalan masa kolonial, saat ini sudah tertata dan terawat dengan baik. Bahkan sebagian besar telah dimanfaatkan untuk menjalankan bisnis maupun perkantoran.

Roda perekonomian pun makin berkembang dengan berdirinya sejumlah cafe, galeri UMKM, maupun kantor BUMN. Apalagi setiap hari ratusan orang datang ke Kota Lama dengan tujuan berwisata.

Kini, kawasan KOta Lama Semarang yang biasanya ramai, tampak sepi dari wisatawan lokal maupun mancanegara, imbas penyebaran virus corona (Covid-19). Kunjungan wisatawan di Kota Lama Semarang disebut menurun drastis.

“Sekarang sepi, nyaris tanpa ada wisatawan. Yang ada hanya warga sekitar yang mencari tempat untuk bersantai. Mulai sepi sejak ada kebijakan penutupan,” kata Supri, pengayuh becah di kawasan Kota Lama Semarang, baru-baru ini.

Supri mengungkap, biasanya setiap hari dia bisa memperoleh pendapatan Rp 60 ribu hingga Rp 150 ribu per hari dari jasa mengayuh becak dan mengantarkan wisatawan keliling Kota Lama. Namun saat ini, tak ada lagi yang menggunakan jasanya.

“Sekarang enggak ada sewa sama sekali,” imbunya.

Sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang telah resmi menutup seluruh destinasi wisata, tempat hiburan, tempat permainan, SPA, dan panti pijat guna menekan penyebaran Covid-19.

Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, kebijakan ini resmi berlaku mulai 28 Maret 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Seluruh tempat wisata, tempat hiburan, wahana permainan, SPA dan panti pijat kami resmi tutup. Ini untuk mencegah penularan Covid-19 di Kota Semarang,” ujarnya baru-baru ini.

Tak hanya menutup tempat wisata atau hiburan, Pemkot Semarang juga meniadakan kegiatan wisata car free night di kawasan Kota Lama. Begitupun pasar kuliner di Jalan Depok dan Pasar Kuliner Semawis di daerah Pecinan yang rutin dilaksanakan setiap akhir pekan.

“Kami menutup tempat-tempat yang berpotensi memicu keramaian sebab penebaran Virus Corona akan semakin massif,” sebutnya.

Lima jalan protokol di Kota Semarang juga ditutup, yaitu Jalan Pandanaran mulai Tugu Muda hingga Simpanglima, Jalan Pemuda mulai dari Mal Paragon sampai Tugu Muda, dan Jalan Gajah Mada mulai Simpanglima sampai Simpang Gendhingan.

Kemudian, Jalan Pahlawan mulai dari bundaran air mancur Tugu Tunas sampai Simpanglima, dan sepanjang Jalan Achmad Yani mulai Simpang RRI sampai Simpanglima.

Dinas Perhubungan Kota Semarang dan Satlantas Polrestabes Kota Semarang menerapkan penutupan mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WIB. Sementara untuk akhir pekan dan hari libur lima jalan protokol tersebut ditutup 24 jam.(HS)

Bertambah 5 Orang Lagi, di Kota Semarang Total Ada 22 Pasien Corona yang Sembuh

Tahun 1820 Dunia Pernah Dilanda Wabah Kolera, Sekitar 1.200 Warga Kota Semarang Meninggal Dunia