HALO KENDAL – Kondisi laut yang cukup ekstrem belakangan ini, dimana gelombang laut cukup besar, disertai angin, memaksa nelayan di Kabupaten Kendal, sebagian besar tidak melaut. Menurut mereka, kondisinya cukup berbahaya, jika berangkat.
Dengan kondisi tidak melaut, para nelayan menganggur. Namun sebagian ada yang memanfaatkan waktunya untuk memperbaiki perahu atau jaring. Selain itu, sebagian nelayan juga mengisi waktu dengan memancing ikan di sungai sekitar.
Salah seorang nelayan di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal, Syair mengaku, saat gelombang laut cukup besar seperti sekarang ini, selain beresiko, juga para nelayan susah mendapatkan ikan.
“Untuk saat ini hasil tangkapan hanya berupa rajungan dan udang, namun tidak banyak. Akibatnya, stok langka, membuat harga rajungan dan udang pun mengalami kenaikan,” ungkapnya, Selasa (27/12/2022).
Syair menjelaskan, saat ini harga rajungan yang berukuran besar mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Padahal biasanya hanya sekitar Rp 25 ribu per kilogram.
“Untuk harga udang berukuran besar mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan udang kecil Rp 30 ribu per kilogram. Padahal biasanya hanya sekitar Rp 15 ribu per kilogram,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Metorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Retno Widyaningsih dalam rilisnya yang dikeluarkan Senin (26/12/2022) menjelaskan, berdasarkan Analisis data tanggal 26 Desember 2022 jam 00.00 UTC, dan melihat Perkembangan dinamika atmosfer terkini, bahwa angin di Pesisir Utara Jawa Tengah, berhembus dari arah barat menuju utara secara konsisten dengan kecepatan 15-25 knots.
Sehingga dinformasikan, kondisi angin dan gelombang di Laut Jawa, khususnya di pesisir utara Jawa Tengah untuk tiga hari kedepan, yaitu Selasa (27/12/2022), dengan kecepatan angin 10 – 25 knot (18,5 – 46 km/jam) dan tinggi gelombang kategori sedang (1,25- 2,5 meter).
“Sedangkan kecepatan angin 15 – 25 Knot atau 27.8 – 46 km/jam dengan tinggi gelombang kategori sedang hingga tinggi atau 2,5 hingga 4.0 meter, berpotensi terjadi di Laut Jawa bagian tengah,” papar Retno.
Kemudian besok Rabu (28/12/2022), kecepatan angin diperkirakan 10 – 25 knot (18.5 – 46 km/jam) dan tinggi gelombang kategori sedang (1,2- 2,5 meter).
Sedangkan Kamis (29/12/2022), kecepatan angin diperkirakan 10 – 25 knot (18,5 – 46 km/jam), dengan tinggi gelombang kategori sedang – tinggi(1.25 – 2,5 meter).
“Itu berpotensi terjadi tiga hari kedepan, di perairan Brebes – Pemalang, perairan Pekalongan – Kendal, perairan Semarang – Demak, perairan Jepara, perairan Karimun Jawa, perairan Pati – Rembang dan perairan Selatan Kalimantan Tengah,” imbuh Retno.
Sementara, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kendal, Triono mengatakan kondisi saat ini bagi para nelayan sering disebut masa paceklik.
Bak simalakama, dimana nelayan tidak berani melaut karena kondisi cuaca yang sedang ekstrem. Sedangkan kalau tidak melaut, nelayan pun tidak punya pendapatan.
Triono mengungkapkan, beberapa waktu lalu, salah seorang nelayan warga Kelurahan Bandengan, mengalami kejadian tergulingnya perahu. Meski selamat, korban sempat terombang ambing di perairan selama tiga jam.
“Dengan cuaca ekstrem, masuk kategori paceklik, kalau mau berangkat melaut berisiko. Seperti kemarin hari Jumat (23/12/2022), ada perahu yang terbalik dan tenggelam. Alhamdulillah, orangnya bisa berenang ke tepi dan selamat,” ungkapnya. (HS-06).