in

Kominfo Akan Perkuat Komunikasi Sosial untuk Penanganan Covid-19

HALO SEMARANG – Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Usman Kansong, meminta masyarakat untuk bijak melakukan mobilitas selama Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022. Mengingat dengan meningkatnya pergerakan masyarakat dapat menjadi pemicu penyebaran Covid-19.

Usman Kansong menyampaikan masyarakat diharapkan bisa menjaga protokol kesehatan (prokes) dan melakukan vaksinasi.

“Berdasarkan pengalaman dan penelitian, wabah atau pandemi terjadi karena mobilitas atau

pergerakan manusia. Dan di masa liburan, pergerakan ini berlangsung masif,” ungkapnya, melalui siaran pers dari Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Selasa (28/12/2021).

Menyoroti mobilitas masyarakat saat ini, yakni pada libur Natal dan Tahun Baru, Usman mengingatkan bahwa pergerakan manusia dapat menjadi pemicu penyebaran Covid-19. Berkaca dari sebelumnya, yaitu cenderung ada peningkatan kasus virus corona setelah libur idul fitri lalu, dan libur Natal 2020 yang bertepatan dengan libur Maulid Nabi.

Sehingga dia menekankan bahwa hal ini seharusnya menjadi alarm bagi setiap pihak untuk dapat mengendalikan dan menahan diri agar tidak bepergian, meski di tengah masa liburan.

“Karena itu, masyarakat untuk tetap di rumah dan merayakan Nataru di kediaman masing-masing,” harapnya.

Kementerian Kominfo, kata Usman, terus melakukan berbagai kampanye yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia, terutama pada masa Nataru.

Dalam kampanye tersebut, lanjut Usman, menyampaikan dua pesan terkait pencegahan penularan Covid-19. Yakni pertama agar masyarakat menahan diri tidak bepergian bila tidak diperlukan. Karena bepergian akan meningkatkan potensi penyebaran virus. “Bersamaan dengan itu, pemerintah juga menerapkan berbagai kebijakan,” katanya.

Sebagai contoh kebijakan tersebut, ia menyebutkan bahwa siapa pun yang ingin bepergian dengan pesawat terbang, harus sudah divaksin dua kali. Kemudian larangan cuti di akhir tahun bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), larangan perayaan tahun baru, serta pengaturan kapasitas mal dan tempat hiburan yang dibatasi pengunjungnya hanya 75 persen. Selain itu, aplikasi PeduliLindungi harus ditempatkan di ruang publik, agar ketika terjadi penularan maka akan mempermudah proses tracing dan treatment.

Terkait munculnya varian baru Omicron, Usman mengungkapkan, pemerintah juga telah menerapkan berbagai upaya dalam rangka mencegah virus ini masuk dan berkembang di Indonesia.

“Di antaranya dengan menjaga pintu masuk negara, juga pemberlakuan karantina bagi siapapun yang datang dari luar negeri, baik karantina yang terpusat maupun mandiri,” katanya.

Pesan kedua untuk pencegahan penyebaran Covid-19, lanjut Usman, bilamana memang harus bepergian, masyarakat harus betul-betul menjaga protokol kesehatan. Mereka yang belum divaksin, harus segera melaksanakan, termasuk anak dan lansia. Hal ini terutama karena vaksin terbukti dapat meringankan gejala yang diderita ketika tertular Covid-19.

Dalam penyampaian pesan-pesan tersebut kepada masyarakat, sambung Usman, pihaknya bekerja sama  dengan berbagai pihak. “Kita tentu saja melihatkan kelompok-kelompok masyarakat untuk (kampanye) pencegahan penularan Covid-19 di masa Nataru,” tutur Usman.

Usman menjelaskan, adapun kelompok masyarakat dimaksud, seperti Pramuka, Satpol PP di daerah, juga kalangan kampus. Selain itu, juga melalui para key opinion leader atau para pembuat opini publik seperti para ulama, pendeta, tokoh masyarakat, tokoh adat di berbagai daerah.

“Agar para pembuat opini publik yang menjadi panutan ini dapat ikut serta dalam kampanye pencegahan penularan Covid-19 pada Nataru,” ungkap Usman.

Pelibatan para pembuat opini publik dalam upaya komunikasi publik terkait Covid-19 tersebut, menurut Usman, akan lebih ditingkatkan pada tahun 2022.

“Pada 2022 akan kami tingkatkan. Ini bagian dari komunikasi sosial. Artinya pada 2022, selain menggencarkan kampanye literasi dan orkestrasi lewat udara, dalam hal ini lewat media masa dan media sosial, kami juga akan melakukan komunikasi yang sifatnya langsung ke lapangan dan masyarakat, dalam konteks Covid-19, konteks pemulihan kesehatan dan pemulihan ekonomi,”papar Usman.

Ia berharap kombinasi tersebut akan membuat komunikasi publik, literasi, dan orkestrasi akan semakin efektif sesuai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Sehingga tahun depan, di tengah ketidakpastian tentang Covid-19, Indonesia dapat berharap, bisa segera beralih dari pandemi ke endemi.

“Dengan begitu, kita bisa melaksanakan aktivitas seperti sebelum adanya covid. Bisa segera memulihkan ekonomi, aktivitas sosial, aktivitas masyarakat yang selama dua tahun ini dibatasi karena kita ingin Covid-19 segera berakhir,” pungkasnya. (HS-06)

DPRD Kendal Sahkan Tiga Raperda, Diharapkan Meningkatkan Penyelenggaraan Pemerintahan

Pemotor Asal Yogyakarta Meninggal Dunia Usai Jatuh Di Samping Gereja Katholik HKY Tanahmas