HALO BOYOLALI – Warga Kabupaten Boyolali yang tinggal di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, mempunyai tradisi unik yang digelar untuk menyambut bulan Sura.
Mereka menggelar tradisi Upacara Temu Tirta, atau menyatukan air yang berasal dari sumber di Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.
Menurut informasi yang dirilkis boyolali.go.id, prosesi adat tersebut berlangsung di Simpang PB VI Kecamatan Selo, baru-baru ini, dihadiri Ratu Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari atau yang lebih akrab disapa dengan Gusti Moeng.
Upacara menyatukan air dari sumber Tirta Wening di Gunung Merbabu dan Tirta Barokah di Gunung Merapi itu, bertujuan agar warga Desa Samiran tidak mengalami kekeringan dan terhindar dari bencana erupsi Merapi.
Usai ritual menyatukan dua mata air oleh Gusti Moeng, bejana yang berisi dua mata air tersebut, dikirab keliling kampung sejauh tiga kilometer, oleh Paguyuban Kawula Keraton Solo (Pokoso).
Arak-arakan kirab barisan paling depan adalah pasukan bregodo dari keraton Kasunanan Surakarta, disusul dengan pembawa air, kemudian di belakangnya barisan pembawa gunungan, dan yang terakhir adalah baru ibu-ibu dan pemuda pembawa obor.
Pangarsa (Pemimpin) Pokoso Kecamatan Selo, Sukarjo Purwocarito menjelaskan, ritual Temu Tirta ini bermula saat masyarakat Desa Samiran pernah mengalami kekurangan air, sehingga tokoh masyarakat desa kala itu menggelar ritual seperti ini dan dilaksanakan secara turun menurun hingga saat ini.
Dilanjutkan olehnya, arak-arakan gunungan yang dibawa terdiri dari tumpeng nasi jagung atau biasa disebut nasi gunung, kemudian gunungan palawija, gunungan sayur mayur dan gunungan buah-buahan. Sukarjo menyatakan jika hal tersebut merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan karena sebagian besar warga Selo adalah petani.
“Semoga saja nanti setelah adanya Kirab Temu Tirta ini nanti air yang muncul dari sumbernya tambah lagi, bisa mencukupi untuk kehidupan warga masyarakat Selo khususnya Desa Samiran,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali, Eko Sumardiyanto mengatakan, tujuan diadakannya acara ini adalah memperingati malam 1 Suro dan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME.
“Harapannya adalah untuk melestarikan adat kebiasaan yang sudah ada di Desa Samiran ini, kemudian untuk menjalin persatuan.” ujarnya.
Selain ritual Kirab Temu Tirta, rangkaian acara pada hari itu adalah Festival Reog yang dilaksanakan pada siang hari mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai dan Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk yang dimulai usai pemberangkatan kirab tersebut. (HS-08)