HALO KENDAL – Kabupaten Kendal mencatatkan capaian tertinggi dalam realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa Tengah sepanjang 2025. Nilai investasinya bahkan melampaui Kota Semarang dan sejumlah daerah industri lainnya di provinsi tersebut.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kendal, Agus Dwi Lestari, mengungkapkan berdasarkan data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), terdapat lima daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah pada 2025.
“Lima besar tersebut yakni Kabupaten Kendal dengan nilai Rp 15,85 triliun, disusul Kota Semarang Rp 11,14 triliun, Kabupaten Demak Rp 9,06 triliun, Kabupaten Batang Rp 6,72 triliun, dan Kabupaten Semarang Rp 4,36 triliun,” ujar Agus, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, capaian Kendal menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, realisasi investasi di Kendal tercatat sebesar Rp 5,19 triliun. Angka tersebut meningkat menjadi Rp 6,39 triliun pada 2023, melonjak tajam menjadi Rp 14,2 triliun pada 2024, dan kembali naik hingga Rp 15,85 triliun pada 2025.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menilai capaian tersebut menjadi bukti mulai meratanya investasi di kawasan Pantura, khususnya di sekitar kawasan industri strategis.
“Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Demak menjadi bukti bahwa pengembangan kawasan industri terintegrasi mampu menarik investor besar sekaligus membuka lapangan kerja,” kata Sakina.
Berdasarkan sektor usaha, realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 masih didominasi industri pengolahan. Industri barang dari kulit dan alas kaki menempati posisi teratas dengan nilai investasi Rp 11,37 triliun. Disusul industri mesin, elektronik, dan peralatan presisi sebesar Rp 9,70 triliun, industri karet dan plastik Rp 8,96 triliun, industri tekstil Rp 7,97 triliun, serta sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai Rp 7,47 triliun.
Menurut Sakina, dominasi sektor manufaktur ini semakin mengukuhkan posisi Jawa Tengah sebagai salah satu basis industri nasional.
“Ini sejalan dengan strategi kami mendorong hilirisasi dan industri padat karya. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Dari sisi negara asal PMA, lima besar investor asing di Jawa Tengah pada 2025 berasal dari Hong Kong dengan nilai Rp 12,92 triliun, Singapura Rp 11,43 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp 10,13 triliun, Korea Selatan Rp 4,96 triliun, dan Samoa Barat Rp 2,96 triliun.
Selain investasi skala besar, sektor Usaha Kecil dan Mikro (UMK) juga mencatat kinerja positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi UMK di Jawa Tengah mencapai Rp 22,143 triliun, terdiri dari investasi usaha kecil sebesar Rp 7,929 triliun dan usaha mikro Rp 14,214 triliun. Angka ini meningkat sekitar 12 persen dibandingkan 2024 yang tercatat Rp 21,52 triliun.
Dengan capaian investasi yang tinggi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kepercayaan investor, baik asing maupun domestik.
“Kami memastikan stabilitas daerah, kepastian regulasi, serta sinergi lintas sektor tetap terjaga. Target kami, Jawa Tengah menjadi gerbang investasi utama di Indonesia,” pungkas Sakina.(HS)