HALO SEMARANG – Kepastian pemerintah menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen dan Opsen pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang berlaku mulai Januari 2025 akan berimbas cukup besar pada sektor otomotif yang saat ini kondisinya tengah turun.
Sales Director PT Chery Sales Indonesia, Budi Darmawan mengakui, adanya kenaikan PPN sebesar 12 persen oleh pemerintah yang berlaku tahun depan akan berdampak cukup signifikan kepada industri otomotif.
“Apalagi, dengan kondisi penjualan otomotif saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terutama, terhadap kendaraan konvensional, akan terasa lebih berat untuk konsumen,” ungkapnya, saat ditemui awak media di acara Peluncuran Chery J6 di Semarang, Rabu (18/12/2024).
Menurutnya, untuk kendaraan listrik atau electric vehichle (EV) ini masih belum dirasakan berat oleh konsumen, meski nantinya akan ada kenaikan pajak sebesar satu persen.
“Karena untuk kendaraan listrik pemerintah memberikan subsidi PPN BBN sebesar 10 persen. Yang tahun ini dikenakan sati persen, nanti konsumen akan dikenakan 2 persen. Jadi hanya ada selisih sati persen saja. Ini dampaknya tidak terlalu signifikan,” katanya.
“Kalau yang di konvensional tidak hanya ada PPN tetapi juga ada opsen pajak ini yang kami sudah sikapi, tentunya. Kebetulan produk kami memiliki harga yang kompetitif sehingga tidak terlalu memberatkan konsumen,” sambungnya.
Sementara, dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), berharap penjualan mobil tahun ini bisa sentuh 850 ribu unit, setelah direvisi dari sebelumnya tembus 1,1 juta unit. Namun, dengan adanya kenaikan pertambahan nilai (PPN) menjadi 12 persen dan opsen pajak tahun depan akan mengkoreksi penjualan mobil hingga 500 ribu pada tahun depan. (HS-06)