HALO SEMARANG – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut bahwa lalat buah, bisa menjadi ancaman gagal ekspor untuk berbagai komoditas, termasuk mangga.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag, Didi Sumedi, beberapa waktu lalu terkait ancaman serangga tersebut.
Dia mengatakan para pembeli dari luar negeri menerapkan syarat ketat untuk ekspor buah asal Indonesia, salah satunya harus bebas dari lalat buah.
“Memang itu tidak hanya buat ekspor, tapi buat ancaman kita sendiri di dalam negeri. Jadi ini memang tantangan buat kita sebenarnya, bukan disalahkan karena aturan di luar negerinya susah,” kata Didi, belum lama ini, seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.
Dia juga mengatakan pembahasan mengenai ancaman lalat buah, sering dibahas dalam rapat antara kementerian dan lembaga.
Ia melihat, untuk menangani masalah lalat buah, tidak hanya dibebankan kepada pemerintah saja.
“Mungkin harus dilakukan juga oleh petaninya, mau enggak melakukan treatment yang disarankan oleh pemerintah. Saya yakin mereka sudah punya treatment agar lalat buah itu bisa free,” kata Didi Sumedi.
Di sisi lain, Dirjen Didi menyebut jika tak sedikit pengusaha buah yang berhasil mengirimkan produknya ke luar negeri.
“Kita sudah beberapa yang sudah bisa ekspor. Artinya mereka sudah bisa melakukan treatment untuk bisa men-treat lalat buah. Ada beberapa pengusaha ekspor kita sudah melakukan ini,” kata Didi.
Riset
Sebelumnya, Institut Pembangunan Jabar, Universitas Padjajaran (Injabar Unpad), bersama Badan Karantina Pertanian Kementan (Kementan), berhasil meriset ribuan jenis lalat buah yang hinggap pada buah mangga di seluruh Indonesia.
Hasilnya, tak ada bactrocera occipitalis di pulau Jawa. Yang ada hanyalah varietas unggul dengan kualitas siap ekspor.
“Sehingga tidak perlu takut apalagi panik dalam melakukan proses ekspor mangga ke luar negeri, dalam hal ini Jepang,” kata Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Keri Lestar, selaku Direktur Utama Injabar, seperti dirilis pertanian.go.id.
Menurut Keri, bactrocera occipitalis hanya ditemukan di wilayah hutan belantara Kalimantan Utara.
Di sana, lalat tersebut hinggap pada beberapa buah mangga saja. Sisanya merupakan mangga luar biasa yang memiliki rasa dan kualitas yang juga luar biasa.
Sekedar diketahui, penelitian ini dilakukan sejak bertahun-tahun lalu dengan melibatkan swadaya berbagai pihak termasuk beberapa perusahaan agribisnis dan Barantan Kementan RI.
“Dari semua riset yang kita lakukan, ada sekitar 2800-an lalat buah yang sudah kami teliti. Hasilnya 14 lalat buah dicurigai sebagai bactrocera. Itupun adanya di hutan tarakan dan jauh dari pemukiman. Dari sisi jumlah tidak banyak lah,” katanya.
Menurut Keri, semua riset telah dipublikasi dan didapatkan pada ministry of agriculture, forestry and fisheries (MAFF) Jepang. Dari paparan tersebut, MAFF mengapresiasi penelitan dan riset yang dilakukan hingga menerjang pelosok hutan wilayah Kaltara.
“Jadi pertama tidak perlu takut karena lalat buah itu ada tapi tidak banyak. Kedua kita juga tidak perlu khawatir karena ada proses di Karantina terhadap semua produk-produk buah dan sayuran. Artinya ada aturan yang cukup ketat untuk pemindahan barang dari Kalimantan ke Jawa. Tentu kita berharap, proses ekspor mangga kita ke Jepang berjalan dengan baik. Riset dan diplomasi ini perlu kita tingkatkan untuk menjaga kualitas mangga kita,” ujarnya. (HS-08)