in

Kasus TBC Capai 46.999, Jadi Perhatian Serius Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah mengungkap jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayahnya yang mencapai 46.966 kasus sepanjang tahun 2022. Hal ini mendapat perhatian serius dari jajaran DPRD Jateng.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko mengingatkan pemprov, khususnya Dinas Kesehatan untuk lebih sigap dan tanggap, dan diperlukan terobosan-terobosan dalam penanganan kasus penyakit menular ini.

“Kami ingin pemerintah lebih sigap dan tanggap dalam merespon hal ini. TBC termasuk salah satu penyakit menular yang masih tinggi di Jawa Tengah. Jangan sampai lengah dan membuat penyakit tersebut semakin menular dan merebak,” ujarnya, baru-baru ini.

Ia mengatakan, penanganan secara khusus dan konsisten harus dilakukan. Dinkes diminta terus memantau proses pengobatan untuk memastikan sampai sejauh perkembangan kondisi pasien yang menderita TBC.

“Upaya-upaya penanggulangan perlu sekali dilakukan, selain konsisten dalam memantau pengobatan pasien. Kesehatan rumah serta lingkungan sekitar harus menjadi perhatian juga agar bisa menekan penularan kasus TBC,” kata Heri.

Menurut politisi Partai Gerindra tersebut, TBC merupakan penyakit kronis yang memiliki daya tular dan tingkat kematian tinggi yang disebabkan faktor kebal obat. Bahkan TBC bisa lebih berbahaya dibandingkan Covid-19.

“Ketika kita bicara tentang sakit TBC, walaupun Covid-19 kemarin menyerang, tapi bahaya TBC ini sebenarnya lebih besar dibanding Covid-19. Karena masyarakat sampai saat ini masih enggan, masih menganggap sepele terkait penyakit tersebut,” ujarnya.

Selain pengobatan, upaya pencegahan sebelum terjangkit penyakit juga menjadi hal utama yang harus dipersiapkan. Apalagi penanganan TBC membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu berkisar antara 6 bulan hingga 1 tahun.

“Berkaitan dengan pencegahan, tentunya kami ingin dinas terkait bisa melakukan terobosan-terobosan agar kasus penyakit menular ini bisa ditekan,” beber Heri Pudyatmoko.

Maka dari itu, lanjut Heri, pihaknya berharap setiap fasilitas kesehatan sampai di tingkat bawah seperti Puskesmas dan Posyandu perlu dilibatkan dalam pencegahan TBC dengan memberikan pelayanan khusus bagi masyarakat.

Menurut Heri, program Jogo Tonggo yang sebelumnya digunakan oleh Pemprov Jateng dalam menangani Covid-19 perlu dikembangkan untuk menanggulangi penyakit TBC.

“Karena Jogo Tonggo tersebut kan juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat hingga tingkat kelurahan, RT, dan RW. Tapi tetap nanti Dinas Kesehatan yang mengkomodir dan mengawasi bagaimana proses berjalannya,” jelasnya.

Sebelumnya Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Rahmah Nur Hayati mengatakan, bahwa pihaknya telah menemukan 46.966 kasus TBC sepanjang tahun 2022.

Pihaknya juga telah menginstruksikan tiap kepala dinas di kabupaten/kota untuk melakukan jemput bola. Termasuk, memberikan edukasi dan pemahaman atau pengawasan terkait pengobatan TBC agar bisa menekan angka tersebut.

“Kami menekankan kepada Dinkes di kabupaten/kota, termasuk rumah sakit, pukesmas dan lembaga sosial masyarakat untuk kolaborasi bersama menemukan kasus dan edukasi. Kami dorong itu, karena kalau masih ada suspek, bisa menjadi indeks penularan baru,” ucap Rahmah.(Advetorial-HS)

17 Partai Lolos Sebagai Peseta Pemilu 2024

Jaga Kondisifitas Nataru, Pemkab Kendal Gelar Rakor Pengamanan Wilayah