HALO SEMARANG – Warga RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, kembali membangun jembatan darurat secara swadaya setelah akses utama mereka hanyut diterjang banjir beberapa waktu lalu. Amblasnya satu-satunya jembatan penghubung membuat warga sempat terisolasi selama beberapa pekan dan hanya bisa mengandalkan perahu rakit untuk menyeberang.
Kini, dengan semangat gotong royong, warga membangun jembatan sementara dari bambu agar aktivitas sehari-hari dan roda perekonomian tetap berjalan.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman, yang akrab disapa Pilus, menilai langkah warga tersebut lahir dari kebutuhan mendesak untuk tetap beraktivitas.
“Meski darurat dan terbuat dari bambu, jembatan ini sudah bisa dilalui warga, termasuk kendaraan roda dua. Aktivitas ekonomi pun bisa kembali berjalan. Namun memang risikonya tinggi karena kekuatannya tentu tidak seperti jembatan permanen,” ujar Pilus, Jumat (27/2/2026).
Pembangunan jembatan darurat dilakukan secara gotong royong dengan dukungan personel Kodim Semarang yang turut kerja bakti. Selain itu, bantuan material dan dana juga mengalir dari tokoh masyarakat serta warga sekitar.
“Alhamdulillah bisa terbangun. Tapi kami tetap berharap BBWS Pemali-Juana dan Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum bisa segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen agar akses warga benar-benar aman,” tambahnya.
Pilus mengimbau masyarakat untuk tetap bersabar sembari pemerintah mengupayakan solusi jangka panjang.
“Kami terus mendorong agar jembatan permanen bisa segera dibangun, apakah nanti berbentuk jembatan gantung atau beton yang lebih kuat dan tahan terhadap banjir,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Suwarto, mengatakan pihaknya berkomitmen meningkatkan aksesibilitas warga melalui pembangunan jembatan baru. Namun, saat ini masih terdapat kendala anggaran.
“Jika memungkinkan akan kami ajukan pada anggaran 2026, dengan harapan bisa mulai dibangun pada 2027. Tahapannya diawali dengan penyusunan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED), kemudian dilanjutkan proses lelang untuk pembangunan fisik,” jelasnya.
Suwarto menambahkan, karena kerusakan jembatan terjadi akibat bencana, Pemkot Semarang juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat melalui BBWS Pemali-Juana serta Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk percepatan penanganan.
Ia menekankan, keberadaan jembatan darurat sangat rentan jika terjadi hujan deras kembali. Sementara akses jalan inspeksi yang ada dinilai terlalu jauh dan memberatkan warga jika harus memutar.
“Pembangunan jembatan ini akan kami usulkan dalam anggaran perubahan. Kami juga terus berupaya meminta dukungan dari pemerintah pusat agar penanganannya bisa lebih cepat,” paparnya.
Bagi warga RW 7 Mangkang Wetan, jembatan bukan sekadar infrastruktur. Ia menjadi urat nadi kehidupan—penghubung anak-anak menuju sekolah, pekerja ke tempat usaha, dan akses distribusi hasil ekonomi warga. Hingga jembatan permanen berdiri, bambu-bambu itulah yang kini menjadi simbol ketangguhan dan solidaritas warga menghadapi keterbatasan.(HS)


