HALO SEMARANG – Memajukan pertanian nasional dan tindak lanjut program Smart Agrologistik, Institut Pertanian Bogor (IPB) University didukung oleh Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, menggelar monitoring dan evaluasi program.
Kegiatan yang diadakan melalui zoom dan langsung ini, dihadiri Wakil Kepala LPPM IPB, Prof Dr Sugeng Heri Suseno SPi MSi, serta peneliti dari IPB dan Udinus.
Kegiatan dipimpin Prof Dr Ir Marimin MSc, selaku Ketua Tim Program Penelitian Institusi Agromaritim IPB. Udinus yang dalam kesempatan itu, diwakili Dosen Teknik Industri Udinus Dr Rindra Yusianto SKom MT. Hadir pula kelompok tani kentang di wilayah Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah.
Sementara dari Industri, dihadiri CEO Adhiguna Laboratory Adi Nurcholis MSc, serta dari Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Wonosobo dihadiri oleh Sidik Widagdo, SSos MSi.
Peneliti sekaligus Dosen Teknik Industri Udinus, Dr Rindra Yusianto SKom MT, menjelaskan bahwa di daerah Dieng, salah satu komoditas unggulan yakni kentang. Memang dari beberapa riset yang telah dilakukan, kata dia, kentang merupakan komoditas yang paling unggul.
“Aplikasi yang telah dirancang bersama yakni Smart Agrologistik telah dirancang dan diimplementasikan kepada kelompok tani di daerah Wonosobo. Kegiatan monitoring pada kali ini merupakan tindak lanjut dari implementasi program yang dirancang oleh IPB dan Udinus. Aplikasi itu bertujuan untuk mempertemukan kelompok tani, pengepul, pedagang, industri dan konsumen pasok kentang di wilayah Wonosobo,” jelasnya, seperti dalam rilis yang diterima halosemarang.id, Rabu (8/6/2022).
Aplikasi Smart Agrologistik diciptakan untuk meningkatkan kinerja para petani dalam melakukan transaksi dengan calon pembeli. Aplikasi tersebut dilengkapi dengan fitur katalog, manajemen stok, transaksi, pembayaran, hingga tracking pengiriman produk.
Sementara itu, Ketua Tim Program Penelitian Institusi Agromaritim IPB, Prof Dr Ir Marimin MSc, mengatakan penelitian teori Smart Agrologistik merupakan pengembangan disertasi dari Dosen Teknik Industri Udinus, Dr Rindra Yusianto, SKom MT.
Adapun pada berbagai aspek aplikasi di lapangan merupakan kolaborasi dengan akademisi, badan usaha, komunitas, pemerintahan, dan media. Menurutnya lokasi sampel memang di daerah Wonosobo, sebagai langkah awal dan dapat dikembangkan di lokasi yang lebih luas, begitu juga dengan komunitasnya.
“Ke depan kami akan uji coba di beberapa komunitas dan bisa diintegrasikan bisa menjadi karya kolaborasi yang lebih baik. Nantinya kami juga bisa memperhatikan aspek lingkungan juga. Hasil berikutnya dapat dikembangkan ke arah panen dan prediksi di masa yang akan datang,” tutupnya.(HS)