in

Ingin Imbangi Ginseng Korea, Menkes Minta Kelor Diteliti Serius

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, ketika berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu. (Foto : sehatnegeriku.kemkes.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, meminta pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), meneliti kelor dengan serius.

Permintaan itu disampaikan Menkes, karena daun kelor selama ini dipercaya memiliki berbagai manfaat dan NTT merupakan salah satu wilayah dengan tumbuhan kelor yang cukup banyak di Indonesia.

“Saya minta ke Pemda ini, (kelor) kita masukkan penelitian karena kelor itu kan kaya akan gizi,” kata Menkes Budi, ketika berkunjung ke NTT, baru-baru ini, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Menurut dia, kelor telah lama menjadi makanan tradisional dan tanaman herbal Indonesia.

Maka dari itu, Menkes Budi ingin menjadikan kelor sebagai tanaman herbal terbaik khas Indonesia, sebagaimana ginseng dari Korea.

“Saya ingin mengimbangi seperti ginseng Korea. Dibikin penelitian yang serius, untuk masuk dunia internasional,” kata Menkes Budi.

Tumbuhan kelor memiliki daun, biji, dan akar yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Kelor telah lama dikenal sebagai tanaman obat yang berkhasiat.

Daun kelor kaya akan nutrisi, seperti protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besi.

Oleh karena itu, daun kelor sering digunakan sebagai bahan makanan atau suplemen nutrisi untuk membantu mencegah atau mengatasi berbagai penyakit.

Selain daunnya, biji kelor juga memiliki banyak manfaat. Biji kelor mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai bahan bakar nabati.

Selain itu, minyak biji kelor juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik atau obat-obatan.

Kelor cukup populer di NTT karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat setempat. Daun kelor di NTT biasanya diolah menjadi sayur atau lalapan, yang diolah dengan bumbu khas NTT.

Di samping itu, kelor juga memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif untuk mengatasi masalah kelaparan di daerah-daerah terpencil di NTT.

Kandungan nutrisi yang tinggi pada kelor, seperti protein, vitamin, dan mineral, dapat membantu mengatasi kekurangan gizi dan memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat setempat.

Setibanya di Kupang, Menkes Budi mencicipi pangan olahan dari kelor, mulai dari biskuit, bubur, teh, dan roti.

“Jadi kita akan menjadikan kelor sebagai salah satu makanan tradisional dan herbal Indonesia, kita akan riset secara formal. Kita dukung risetnya supaya bisa diterima di kalangan internasional,” tutur Menkes Budi. (HS-08)

Meriahnya Jalan Sehat BUMN dan Pupuk Indonesia di 234 Kabupaten/Kota

Ratusan Orang Terjangkit Campak di Provinsi Papua Tengah