HALO SURAKARTA – Pembukaan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026, yang digelar di Surakarta dan Yogyakarta, juga menandai penguatan kolaborasi Indonesia dan Prancis, melalui sinergi Wonderful Indonesia Gastronomy dengan Rendez-Vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026, bersama Kedutaan Besar Prancis dan Institut Français d’Indonésie (IFI).
Hal itu diungkapkan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, dalam acara pembukaan WIG 2026 di Pura Mangkunegaran, Kota Surakarta, baru-baru ini.
Semangat kolaborasi kedua negara dalam bidang gastronomi tersebut, juga hadir pada malam pembukaan WIG 2026.
Chef Degan Septoadji, Chef Wayan, dan Chef Stéphane Carrade, Executive Chef Le Skiff Club asal Prancis yang meraih dua bintang Michelin, hadir sekaligus unjuk keahlian dalam “Chef Exchange and Collaboration”.
“Melalui kolaborasi dengan Prancis, kami ingin menciptakan kesempatan nyata bagi pertukaran profesional, pengembangan kapasitas, hubungan yang semakin kuat antarkomunitas kuliner, serta visibilitas internasional yang lebih besar bagi gastronomi Indonesia,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, seperti dirilis kemenpar.go.id.
Dalam kesempatan ini, Menpar Widiyanti juga menyampaikan apresiasi kepada Duta Besar Prancis Fabien Penone dan IFI atas kolaborasi tersebut.
Kerja sama ini juga merupakan bagian dari hubungan strategis Indonesia–Prancis yang lebih luas.
Untuk diketahui, Pada 2025 silam, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengadopsi Joint Vision 2050 sebagai arah jangka panjang Kemitraan Strategis Indonesia–Prancis, bersama dengan Joint Declaration on Cultural Strategy between Indonesia and France.
Kedua pemimpin kemudian menandai penguatan hubungan kebudayaan kedua negara di Borobudur, Jawa Tengah.
Adapun gastronomi menjadi salah satu ruang penting, dalam hubungan tersebut, termasuk melalui pertukaran profesional, pengembangan kapasitas, penguatan jejaring komunitas kuliner, serta peningkatan visibilitas gastronomi Indonesia secara internasional.
Program Unggulan
Wonderful Indonesia Gastronomy, merupakan program unggulan Kementerian Pariwisata, yang dikembangkan, untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi gastronomi terkemuka dunia.
Melalui WIG, Kementerian Pariwisata mendorong gastronomi sebagai salah satu daya tarik utama bagi quality tourism, membuka peluang yang lebih luas bagi chef dan profesional kuliner Indonesia, sekaligus membangun gastronomi Indonesia sebagai ekspresi budaya yang memiliki nilai dan daya saing global.
“Wonderful Indonesia Gastronomy adalah pesan yang ingin terus kami bawa, kepada dunia: bahwa kekayaan gastronomi Indonesia berangkat dari tradisi, masyarakat, dan identitas lokal, kemudian tumbuh untuk memperoleh pengakuan di tingkat internasional,” kata Menpar Widiyanti, seperti dirilis kemenpar.go.id.
Pembukaan WIG 2026 dihadiri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X; Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN HE Fabien Penone; Wali Kota Surakarta Respati Ardi; para mitra, chef, gastronom, pelaku industri pariwisata dan hospitalitas, serta media dan tastemakers nasional maupun internasional.
Menpar Widiyanti menjelaskan bahwa perjalanan Wonderful Indonesia Gastronomy dimulai pada 2025 di Jakarta dan Bali.
Sebagai dua gerbang internasional utama Indonesia, sekaligus dua pasar kuliner yang telah berkembang, Jakarta dan Bali menjadi platform awal untuk memperlihatkan kesiapan, kreativitas, dan kepercayaan diri industri restoran Indonesia kepada dunia.
Pada penyelenggaraan perdananya tersebut, WIG mulai memperkenalkan narasi baru mengenai gastronomi Indonesia.
Tidak hanya menampilkan makanan, tetapi juga chef, produsen, restaurateur, serta tradisi yang membentuk pengalaman gastronomi Indonesia.
Memasuki 2026, arah tersebut dikembangkan lebih jauh.
“Jika pada 2025 kami memulai dari Jakarta dan Bali, tahun ini kami ingin masuk lebih dalam ke akar yang membentuk gastronomi Indonesia. Karena itu, Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 menempatkan Solo dan Yogyakarta di pusat penyelenggaraan,” ujar Menpar Widiyanti.
Pemilihan Solo dan Yogyakarta tidak terlepas dari kekuatan keduanya sebagai bagian dari jantung kebudayaan Jawa, tempat tradisi dan kehidupan sehari-hari masih memiliki hubungan yang sangat erat.
Menurut Menpar, di Jawa, tradisi keraton, kerajinan, pasar, warung, hingga kreativitas kontemporer tidak berdiri sendiri, tetapi hidup berdampingan dan terus berkembang bersama masyarakat. (HS-08)

