HALO SEMARANG – Hamparan lahan seluas 10 hektare di atas perbukitan Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, menjadi harapan baru bagi masyarakat setempat, untuk dibangunnya lembaga pendidikan keagamaan Katolik yang terintegrasi.
Lahan yang telah bersertifikat itu, dihibahkan Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Muga Sada, kepada Direktur Jenderal Bimas Katolik Suparman.
Penyerahan Sertipikat Lahan ini, berlangsung di kantor layanan Kementerian Agama, Jl MH Thamrin, Jakarta, pada 20 April 2026.
Sebagai tindak lanjut, Dirjen Bimas Katolik Suparman meninjau lahan yang dihibahkan di Kota Mbay.
Ikut hadir, Wakil Bupati Nagekeo, Direktur Pendidikan Katolik, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Suparman mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah Nagekeo dalam pengembangan pendidikan keagamaan Katolik.
Ia mengungkapkan bahwa proses hibah lahan tersebut telah berlangsung selama dua tahun sebelum akhirnya terealisasi.
“Saya saat ini berada di lokasi penyerahan lahan 10 hektare dari Pemda Nagekeo. Pak Wakil Bupati memiliki peran besar dalam menyukseskan proses ini,” ujarnya di Kota Mbay, baru-baru ini, seperti dirilis kemenag.go.id.
Ia menegaskan bahwa luas lahan tersebut sangat memadai untuk pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan Katolik yang terintegrasi.
Suparman meminta seluruh jajaran terkait untuk mendukung percepatan pembangunan, dengan harapan proyek tersebut dapat segera direalisasikan jika kondisi anggaran memungkinkan.
Wakil Bupati Nagekeo menegaskan kesiapan Pemerintah Daerah dalam mendukung pembangunan, khususnya dalam penyediaan lahan.
Ia menilai keberadaan sekolah tersebut akan menjadi salah satu solusi strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah.
“Sekolah ini adalah pintu masuk untuk pengentasan kemiskinan,” tegas Gonzalo.
Berdasarkan data per Mei 2026, jumlah penduduk Kabupaten Nagekeo mencapai 170.669 jiwa, dengan sekitar 87,31 persen beragama Katolik.
Kondisi ini dinilai mendesak untuk diperlukannya pembangunan pusat pendidikan keagamaan Katolik negeri yang terintegrasi guna menunjang kebutuhan masyarakat.
Ditjen Bimas Katolik saat ini tengah menyusun grand design pendidikan keagamaan Katolik sesuai harapan pemerintah daerah, gereja, dan masyarakat setempat.
Direktur Pendidikan Katolik Albertus Triyatmojo, menjelaskan bahwa konsep pendidikan yang dirancang akan mengintegrasikan kurikulum umum dan keagamaan, serta menerapkan sistem berasrama.
Model pendidikan ini mengusung prinsip berpusat pada Kristus, bersifat holistik (Fides, Mores, et Intellectus), serta integratif antara sekolah, asrama, dan pembinaan spiritualitas.
“Output yang diharapkan adalah lahirnya generasi Katolik yang beriman serta berkarakter Kristiani yang kuat, berlandaskan nilai iman, harapan, dan kasih,” harap Albertus Triyatmojo.
Bimas Katolik menargetkan tahap implementasi pembangunan dan operasional lembaga pendidikan ini dapat berlangsung pada periode 2028 hingga 2030, dengan harapan seluruh dukungan proses berjalan lancar sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat Nagekeo. (HS-08)


