in

Hadir di Keuskupan Bogor, Menag : Menjadi Frater dan Diakon Tugas Mulia

Menag Nasaruddin Umar menghadiri Perayaan Ekaristi Tahbisan Presbiterat dan Diakonat Keuskupan Bogor yang digelar di Gereja Katolik Paroki Santo Thomas, Depok. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Bagi umat Katolik, menjadi frater dan diakon, merupakan tanggung jawab besar sekaligus tugas yang sangat mulia.

Hal itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar, ketika menghadiri Perayaan Ekaristi Tahbisan Presbiterat dan Diakonat Keuskupan Bogor, yang digelar di Gereja Katolik Paroki Santo Thomas, Depok, baru-baru ini.

Dalam momen tersebut, sepuluh pelayan umat resmi ditahbiskan, terdiri atas dua diakon dan delapan frater baru.

Kesepuluh pelayan umat ini sebelumnya telah menjalani pengabdian selama dua tahun di Paroki Santo Thomas Depok.

Mereka akan semakin memperkokoh kehidupan iman umat Katolik, khususnya di wilayah pelayanan Keuskupan Bogor yang mencakup Jawa Barat dan Bandung.

“Menjadi frater dan diakon adalah tanggung jawab besar sekaligus tugas yang sangat mulia. Kalian dipanggil bukan hanya untuk melayani jemaat, tetapi juga untuk menebarkan kasih, merawat kemanusiaan, dan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Menag, seperti dirilis kemenag.go.id.

Menag menegaskan bahwa rumah ibadah, apapun agamanya, pada hakikatnya adalah rumah kemanusiaan.

“Di Indonesia, kita sudah memiliki simbol yang luar biasa tentang kerukunan antar umat beragama, yaitu terowongan penghubung bawah tanah antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Itu adalah pengingat nyata bahwa iman tidak boleh membatasi, tetapi harus menjembatani sesama manusia,” jelasnya.

Lebih jauh, Menag mengajak seluruh umat beragama untuk menjadikan momentum tahbisan ini sebagai inspirasi dalam memperkuat persaudaraan.

“Kerukunan tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi harus diwujudkan dalam sikap keseharian kita. Jadilah pelayan umat yang hadir membawa terang, menghapus sekat, dan menghadirkan kasih di setiap ruang kehidupan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun solidaritas lintas agama demi kemaslahatan bangsa.

“Sebagai bangsa yang beragam, kita harus terus menghidupkan spirit persaudaraan. Saya selalu percaya, semakin dekat kita dengan Tuhan, seharusnya semakin dekat pula kita dengan sesama manusia. Itulah inti dari moderasi beragama,” tutur Menag.

Frater Gerald yang turut ditahbiskan, dalam pesan retretnya menambahkan, “Memiliki teman adalah pilihan kemanusiaan, tetapi mempunyai saudara adalah pemberian Tuhan. Maka sikap batin yang tepat ketika kita memilih untuk bersaudara adalah menerima dengan penuh syukur.”

Menteri Agama pun menyambut pesan itu dengan penuh apresiasi.

“Pesan ini sangat relevan. Kita adalah saudara, apapun latar belakang agama, suku, atau budaya kita. Mari kita rawat persaudaraan itu sebagai anugerah Tuhan untuk keberlangsungan hidup bersama dan keselamatan banyak orang,” kata Menag. (HS-08)

Sujarwanto Dwiatmoko jadi Calon Tunggal Ketua Umum KONI Jateng 2025–2029

Peserta MQK Internasional 2025 Berdatangan, Ada dari Malaysia hingga Myanmar