HALO JEPARA – Skor risiko bencana kekeringan di Kabuaten Jepara mencapai 20,79 dan masuk kelas tinggi, sehingga menjadi salah satu ancaman yang perlu mendapat perhatian serius.
Hal itu disampaikan Bupati Jepara, H Witiarso Utomo, dalam rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau, Rabu (9/9/2026), di Gedung Shima.
Rapat yang digelar Pemerintah Kabupaten Jepara itu, dihadiri pula oleh Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar, Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna, Kepala Kejaksaan Negeri Jepara Agung Bagus Kade Kusimantara, Sekretaris Daerah Jepara Ary Bachtiar, serta perwakilan Forkopimda.
Berdasarkan Indeks Risiko Bencana 2025, Jepara memiliki skor risiko bencana 121,22 atau kelas sedang, sementara risiko kekeringan tercatat 20,79 dan masuk kelas tinggi.
“Untuk September dan Oktober, curah hujan diprediksi masih rendah di seluruh wilayah Jepara. Artinya, meskipun kita berada di bulan September, harus tetap waspada,” ujarnya, seperti dirilis jepara.go.id.
Berdasarkan data per 2 September, sejumlah wilayah telah terdampak kekeringan dan membutuhkan distribusi air bersih.
Di Desa Kedungmalang, Sumberejo, dan Tunahan, tercatat 1.415 keluarga atau 4.247 jiwa terdampak, dengan bantuan air bersih yang telah disalurkan sebanyak 320 ribu liter.
Bupati meminta BPBD bersama perangkat daerah terkait memastikan pemetaan wilayah rawan kekeringan.
Wilayah yang telah dipetakan tersebut diperintahkan untuk ditindaklanjuti dengan pengeboran sumur bor dan pipanisasi.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Jepara menganggarkan Rp4,2 miliar melalui APBD 2027.
Anggaran ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan air bersih di wilayah rawan kekeringan. Selain itu ada bantuan CSR dari sejumlah perusahaan yang mendukung pengentasan masalah kelangkaan air di Jepara.
“Mari kita kawal bersama dalam pelaksanaannya. Silakan nanti para camat untuk berkoordinasi dengan masyarakat, untuk pengelolaannya mau itu pakai SPAM Desa, atau PDAM, kalau dikelola desa saya harap ini berjalan baik dan dirawat,” tandasnya.
Sebab menurut Mas Wiwit, pembangunan jaringan air yang dibangun akan menjadi sia-sia apabila pengelolaannya tidak baik dan akan menimbulkan masalah baru. Ia berharap apa yang akan dilakukan ini memiliki dampak luas dan bermanfaat dalam waktu jangka panjang.
Tak hanya menghadapi kemarau, Bupati juga meminta perangkat daerah terkait mulai mengantisipasi datangnya musim penghujan.
Kesiapan infrastruktur, lingkungan, serta potensi bencana yang menyertai musim hujan perlu dipersiapkan sejak dini agar masyarakat Jepara tetap aman dan siap menghadapi perubahan musim. (HS-08)


