
HALO MAGELANG – Material longsoran dari puncak Merapi, dominan menuju ke arah barat dan barat daya. Longsoran tersebut berasal dari bukaan kawah di dinding sebelah barat.
Pengamat Gunung Merapi (PGM) di Pos Babadan, Desa Krinjing, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Yulianto mengatakan Gunung Merapi telah menunjukkan aktivitasnya.
Seperti guguran material yang berkali-kali terjadi, hingga mengakibatkan gempa. Dia memberi contoh peristiwa yang terjadi Kamis (26/11) lalu, di mana tercatat 506 kali gempa.
“Gempa itu antara lain dari guguran sisa kubah lava lama sisi barat,” kata Yulianto.
Lanjut dia, dari 506 gempa tersebut, gempa guguran terjadi sebanyak 44 kali, embusan 122 kali, gempa hybrid fase banyak 309 kali, dan gempa vulkanik dangkal 33 kali.
Dari Pos Pengamatan Babadan, terlihat asap sulfatara putih membumbung setinggi 50 meter lebih, dari puncak gunung aktif ini. Berkali-kali juga terdengar suara gemuruh dari Merapi.
Sementara itu Koordinator Bidang Operasi Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) DIY, Endro Sambodo mengungkapkan dari pengamatan, terdapat banyak material longsoran baru, dan didominasi menuju ke barat dan barat daya.
Adapun dari analisa berdasar kondisi morfologinya, material longsoran mengarah ke hulu Kali Senowo, Kali Putih, Kali Lamat, Kali Boyong, dan Kali Krasak.
Perkiraan sementara longsoran tersebut berasal dari bukaan kawah di dinding sebelah barat. “TRC BPBD DIY melaporkan hasil pantauan tersebut ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi ( BPPTKG) untuk dianalisa lebih lanjut,” katanya.
Sementara itu, dari pantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada Kamis (26/11/2020) antara pukul 00.00-24.00 WIB, tercatat ada 44 kali gempa guguran di Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan, selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat 309 kali gempa hybrid atau fase banyak, 120 kali gempa embusan, dan 33 kali gempa vulkanik dangkal.
Lalu, untuk laju deformasi Gunung Merapi dengan wilayah meliputi sejumlah daerah di DIY dan Jawa Tengah itu, diukur menggunakan electronic distance measurement (EDM) Babadan rata-rata 12 cm per hari.
Sementara itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten, telah memperpanjang status tanggap darurat Gunung Merapi hingga 15 Desember 2020. Perpanjangan status ini merupakan kali ke tiga sejak ditetapkan pada 5 November 2020 lalu.
Langkah ini, dilakukan untuk mengantisipasi letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi kapan saja.
Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Klaten mencatat lebih dari 300 warga mengungsi ke dua lokasi. Sebanyak 392 warga dari Desa Tegal Mulyo, Sidorejo dan Balerante, khususnya diprioritaskan kelompok rentan, mengungsi ke tempat yang telah dipersiapkan pemerintah kabupaten.
“Ketiga desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah,” ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi BNPB Dr Raditya Jati dalam rilisnya, Sabtu 28 November 2020.
Terhitung pada Jumat 27 November 2020, warga yang mengungsi terdiri atas dewasa 219 jiwa, anak-anak 63 jiwa, lansia 56 jiwa, balita 34 jiwa, disabilitas 9, ibu menyusui 7 dan ibu hamil 4.
“Sementara itu, total warga yang tersebar di 15 titik pengungsian berjumlah 2.318 jiwa. Mereka tersebar di empat kabupaten yang berpotensi terdampak, antara lain Boyolali, 905 jiwa, Magelang 785, Klaten 392 dan Sleman 236,” tuturnya. (Dari berbagai sumber – HS-08)