in

Gayeng ! Pejabat Klaten Perankan Lakon Ketoprak Hadeging Klaten

Pergelaran seni ketoprak dengan pemeran para pejabat Pemkab Klaten, TNI, Polri, dan BUMD, di halaman kompleks Gedung Sunan Pandanaran Klaten, baru-baru ini. (Foto : klatenkab.go.id)

 

HALO KLATEN – Halaman kompleks Gedung Sunan Pandanaran, dipadati penggemar seni budaya, baru-baru ini.

Mereka hendak menyaksikan pergelaran seni ketoprak, yang digelar dalam rangka menyemarakan peringatan Hari Jadi Ke-220 Klaten dan HUT Ke-79 Kemerdekaan RI.

Pergelaran ketoprak yang mengambil lakon Hadeging Klaten ini, menarik minat bukan hanya penggemar seni budaya namun juga masyarakat umum.

Dalam pertunjukan kesenian tradisional ini, digambarkan kisah tentang wilayah yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Klaten.

Pertunjukan seni menjadi lebih menarik, karena semua pemain bukan merupakan seniman, melainkan para pejabat di daerah itu.

Beberapa di antara mereka adalah Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Klaten, jajang prihono; Ketua DPRD Kabupaten Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, hingga unsur TNI/Polri dan direksi BUMD di Kabupaten Klaten.

Kehadiran para pejabat yang bukan pelakon ketoprak profesional ini pun, menjadikan suasana gayeng, meski pun bukan pada sesi lawakan.

Kesalahan dialog hingga tutur spontan yang disampaikan, mampu memperlihatkan sisi lain dari pejabat di Kabupaten Klaten di hadapan masyarakat yang hadir.

Pergelaran ketoprak ini merupakan inisiatif dari Dewan Kesenian Kabupaten Klaten, sebagai bagian dari kegiatan menyemarakan Hari Jadi Ke-220 Klaten dan HUT Ke-79 Kemerdekaan RI.

Ketua Pembina Dewan Kesenian Kabupaten Klaten, Sunarna menyampaikan pergelaran ketoprak ini sebagai salah satu wujud rasa bangga masyarakat Klaten dalam menjunjung seni budaya asli Klaten.

Pergelaran ketoprak yang melibatkan unsur pejabat ini menguatkan Klaten sebagai pusat pengembangan seni ketoprak.

“Semoga ketoprak ini bisa memberikan hiburan kepada masyarakat Klaten dan bisa memberikan manfaat bagi kita semua,” kata Bupati Klaten periode 2005-2015 itu, seperti dirilis klatenkab.go.id.

Adapun cerita yang disampaikan mulai dari asal muasal dibukanya wilayah Klaten mulai dari desa tertua yang tercantum dalam Prasasti Upit di era Rakai Kayuwangi, Raja Medang (era Mataram Kuno) yang memerintah tahun 855-885 masehi, hingga dibangunnya benteng Fort Engelenburg oleh Pemerintahan Distrik Militer Belanda tahun 1804.

Bupati Klaten, Sri Mulyani yang hadir dalam pagelaran tersebut menyampaikan apresiasinya atas digelarnya Pagelaran Ketoprak Hadeking Klaten itu.

Ungkapan apresiasi juga ditujukan kepada segenap pejabat di Kabupaten Klaten yang bersedia andil dalam seni sandiwara tradisional tersebut.

“Hari ini merupakan sesuatu yang berbeda dan istimewa, biasanya kita menyaksikan para seniman tampil di atas panggung menghibur kita, tapi malam ini para pejabat pemerintahan Kabupaten Klaten yang tampil untuk mengibur kita semua. Saya berharap semoga kegiatan ini dapat memberikan hiburan bagi seluruh masyarakat Klaten sekaligus untuk nguri-uri budaya kita,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyerahkan piagam penghargaan bagi 21 pihak sebagai pelestari seni ketoprak di Kabupaten Klaten.

Penghargaan tersebut diberikan kepada sekolah, media, hingga perusahaan milik pemerintah dan swasta yang terlibat aktif dalam pelestarian seni ketoprak sebagai budaya asli Klaten. (HS-08)

Jelang Dipindah ke Kapal Mendoan, PKL Alun-alun Kebumen Ikuti Sosialisasi Lapak Dasaran

Kepesertaan JKN di Rembang Meningkat, Pemkab Terima Penghargaan UHC