in

Event Lomba Lari Makin Marak di Jateng, Bukan Sekadar Mengejar Garis Finis

Para peserta Bank Jateng Friendship Run 2026 yang dilaksanakan di Semarang, Minggu (20/9/2026).

EVENT lomba lari kini bukan lagi sekadar urusan mengejar garis finis. Di Jawa Tengah, olahraga ini perlahan menjelma menjadi magnet baru yang menggabungkan gaya hidup sehat, pariwisata, hingga perputaran ekonomi masyarakat.

Sepanjang Januari hingga September 2026, puluhan event lari digelar di berbagai daerah. Skalanya beragam, mulai dari kegiatan komunitas, fun run, run for charity, hingga perlombaan berskala nasional dan internasional.

Memasuki September, kalender lari di Jawa Tengah bahkan semakin padat. Dalam satu akhir pekan, sejumlah daerah menggelar event secara bersamaan.

Di Kota Surakarta, misalnya, Solo Run Fest (SRF) 2026 digelar di kawasan Stadion Manahan-Taman Balekambang, Minggu (27/9/2026). Sekitar 7.000 pelari ambil bagian dalam tiga kategori, yakni half marathon, 10K dan 5K.

Pesertanya pun beragam, mulai dari elite runners, master hingga pelajar.

Pada hari yang sama, Kabupaten Semarang juga diramaikan Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026. Berbeda dengan lomba jalan raya, peserta event ini diajak menaklukkan medan pegunungan yang melintasi Gunung Gajah, Gunung Telomoyo dan Gunung Kendil.

Sementara di Kota Semarang, Sultan Agung Fun Run digelar dengan titik start di Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Sepekan sebelumnya, Minggu (20/9/2026), Bank Jateng Friendship Run 2026 juga menyedot perhatian para pelari di Kota Semarang. Event yang menjadi bagian dari rangkaian menuju Borobudur Marathon 2026 tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan.

Sebelumnya, gelaran serupa juga berlangsung di Kabupaten Boyolali pada Agustus 2026.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana olahraga lari semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Namun, bagi pemerintah daerah, manfaatnya tidak berhenti pada urusan kesehatan.

Setiap pelari yang datang juga membawa kebutuhan lain: tempat menginap, makanan, transportasi, hingga keinginan untuk menikmati destinasi wisata di daerah tempat lomba digelar.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menjadi salah satu pejabat yang beberapa kali ikut ambil bagian dalam event lari sepanjang tahun ini. Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno juga tercatat mengikuti sejumlah kegiatan serupa.

Dalam berbagai kesempatan, Luthfi melihat event lari memiliki potensi untuk menggerakkan dua sektor sekaligus, yakni gaya hidup sehat dan ekonomi masyarakat.

“Kegiatan lari itu untuk hidup sehat, selain itu UMKM kita dapat berkembang. Ini bentuk pola hidup sehat di Provinsi Jawa Tengah dan seluruh daerah,” katanya beberapa waktu lalu.

Pemprov Jawa Tengah pun mendorong agar event olahraga semacam ini semakin banyak digelar di berbagai daerah.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan maraknya event lari merupakan bagian dari upaya mengembangkan sport tourism atau pariwisata olahraga.

“Kita penginnya nanti di seluruh Jawa Tengah ada event trail run. Ini bagian kita untuk pengembangan sport tourism di Jawa Tengah,” kata Sumarno.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah, Aria Chandra Destianto, juga berharap semakin banyak daerah yang berani menggelar event olahraga dengan konsep serupa.

“Tidak hanya di Solo dan Semarang, di kota-kota lain kami tunggu kegiatan serupa,” katanya.

Salah satu daerah yang mulai serius menjadikan event lari sebagai bagian dari kalender pariwisata adalah Kota Surakarta.

Solo Run Fest bahkan telah menjadi agenda tahunan dan disebut sebagai salah satu event flagship kota tersebut.

Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto mengatakan SRF 2026 mengusung konsep sport tourism yang sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan pariwisata, ekonomi dan UMKM.

“Kami mengusung tema sport tourism, selaras dengan Provinsi Jawa Tengah yang akan menumbuhkan pariwisata, ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja, serta UMKM bahagia,” katanya seusai mengikuti SRF 2026 kategori 5K.

Jumlah peserta SRF juga menunjukkan pertumbuhan. Jika pada 2025 event tersebut diikuti sekitar 5.000 pelari, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 7.000 peserta.

Respati mengatakan kualitas penyelenggaraan dan kepuasan peserta menjadi salah satu kunci agar event tersebut terus berkembang.

“Tahun depan lebih berkualitas lagi dan bisa menjadi promosi pariwisata Jawa Tengah. Kita sudah kunci empat event lari di Surakarta, yaitu Solo Run Fest, Mangkunagaran Run, Run for Humanity, dan Soekarno Run. Sehingga ekonomi terus bergulir sampai miliaran setiap event,” jelasnya.

Bagi pelari, pengalaman yang ditawarkan juga menjadi alasan mengapa event semacam ini semakin diminati.

Grecia Hutapea, peserta SRF 2026 asal Jakarta yang turun di kategori 10K, mengaku terkesan dengan suasana lomba.

Menurutnya, meski rute melintasi kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, peserta tetap bisa menikmati lintasan tanpa harus berebut ruang dengan masyarakat.

Pepohonan di sepanjang rute juga membuat suasana lari terasa lebih teduh. Belum lagi sejumlah titik cheering yang membuat peserta tetap bersemangat hingga garis finis.

“Lari di sini itu juga sambil lihat budayanya, sempat lewat Mangkunegaran juga,” ujar Grecia.

Dari jalan raya hingga jalur pegunungan, dari pelari pemula hingga atlet elite, event lari kini punya wajah yang semakin beragam.

Dan di balik angka ribuan peserta yang berlari mengejar waktu, ada peluang lain yang ikut bergerak: hotel yang terisi, warung yang ramai, UMKM yang berjualan, destinasi wisata yang dikunjungi, serta ekonomi lokal yang ikut berputar.(HS)

Borobudur 100 Ajak Pelari Berlari Sambil Berdonasi untuk Anak Cerebral Palsy

Jateng Siapkan 10.000 Vaksin Rabies Gratis, Status Bebas Sejak 1997 Tetap Dijaga