in

Empat Kekalahan Beruntun yang Bikin Fans PSIS Frustasi

Foto laga PSIS vs Barito Putera di Stadion Jatidiri, Semarang, pada Sabtu, 4 Oktober 2025. (Dok/Instagram PSIS).

DI awal musim Liga 2 Indonesia, atau Pegadaian Championship 2025/2026, PSIS tampil bak pahlawan tragis dalam cerita lama. Tim berjuluk Mahesa Jenar ini sudah empat kali kalah beruntun, tanpa sekali pun merasakan manisnya poin.

Kekalahan terbaru datang dari tamu, Barito Putera, yang menyabet kemenangan tipis di Stadion Jatidiri, Semarang, pada Sabtu, 4 Oktober 2025. Gol tunggal Alexsandro Ferreira di menit ke-27 jadi penentu, seolah-olah pemain Brasil itu punya misi khusus untuk memperburuk nasib PSIS.

Hasil ini tak cuma menambah derita, tapi juga mengukuhkan posisi mereka di dasar klasemen Grup 2, dengan nol poin dan sembilan gol kebobolan. Sungguh, start musim yang lebih mirip mimpi buruk daripada rencana ambisius.

Mari kita mundur sedikit ke pekan-pekan sebelumnya, karena cerita ini bukan sekadar satu pertandingan. Pekan pertama, PSIS menyambut Persiku Kudus di kandang sendiri, Stadion Jatidiri Semarang. Alih-alih unjuk gigi, mereka malah kebobolan empat gol tanpa balas. Skor 0-4 itu seperti pesta gol untuk lawan, sementara PSIS sibuk mencari-cari di mana letak gawang musuh.

Fans yang datang pulang dengan wajah muram, bertanya-tanya apakah tim kesayangan mereka lupa membawa semangat atau lupa bawa sepatu. Kekalahan ini jadi pembuka yang sempurna untuk rangkaian malapetaka, di mana pertahanan PSIS terlihat lebih rapuh daripada kertas tisu.

Tak lama kemudian, di pekan kedua, PSIS bertandang ke Papua menghadapi Persipura Jayapura. Harapan bangkit pupus lagi. Mereka kalah 0-2, seolah-olah perjalanan jauh ke timur Indonesia cuma buat menambah koleksi kekalahan. Persipura, yang bermain di kandang, memanfaatkan momentum dengan dua gol cepat, meninggalkan PSIS tanpa jawaban.

Ironisnya, tim yang dikenal dengan semangat juangnya ini malah tampak kehabisan napas sebelum peluit babak pertama berbunyi. Sudah dua kekalahan beruntun, dan poin masih nol.

Pekan ketiga juga tak membawa perubahan. Kembali ke Stadion Jatidiri, PSIS menjamu Persiba Balikpapan. Kali ini, mereka setidaknya mencetak satu gol, tapi tetap kalah 1-2. Pertahanan PSIS lagi-lagi jadi sorotan, dengan kesalahan-kesalahan yang lebih mirip komedi slapstick daripada strategi profesional.

Tiga kekalahan berturut-turut, dan fans mulai bergumam, “Apa kami salah pilih tim untuk dukung?”

Pelatih Kahudi Wahyu pun diganti. Dengan harapan, prestasi PSIS bisa dikatrol. Caretaker pelatih Ega Raka Ghalih, yang menggantikan sementara, mulai bicara soal peningkatan permainan, tapi skor di laga berikutnya tak berbohong.

Pada pekan keempat, konfrontasi dengan Barito Putera, pemuncak klasemen yang sedang on fire dengan tiga kemenangan beruntun tak membuat PSIS bangkit dari “tidur lelap”.

Meski bermain di kandang, PSIS lagi-lagi jadi korban. Babak pertama, Barito mendominasi lewat trio Alexsandro, Jaime Moreno, dan Rizky Pora. Gol Alexsandro di menit 27 jadi pukulan telak, dan meski PSIS bangkit di babak kedua dengan setidaknya sepuluh percobaan tembakan ke gawang lawan, tiga di antaranya on target, namun tak ada yang berbuah gol.

Pelatih Barito, Stefano Cugurra, bilang kemenangan ini tak mudah karena PSIS termotivasi tinggi. Termotivasi untuk kalah lagi, sepertinya. Hasil akhir? PSIS tambah satu kekalahan, total sembilan gol kebobolan, dan tetap betah di dasar klasemen.

Ega Raka Ghalih mengakui ada kemajuan, tapi kemajuan seperti apa jika di hasil akhir tak bawa poin?

PSIS, tim dengan sejarah panjang di sepak bola Indonesia, kini jadi bahan olok-olok. Mereka punya pemain seperti Ahmad Syihabuddin dan Delfin Rumbino, yang seharusnya jadi tulang punggung, tapi malah sibuk mengawal kekalahan.

Lihat saja bagaimana fans PSIS mulai “frustasi” selalu melihat perayaan lawan menang. Sampai mereka mewacanakan untuk ganti manajemen, setelah ganti pelatih. Kompetisi ini, yang disponsori Pegadaian, seolah-olah mengingatkan PSIS untuk “gadai” saja harapan mereka di awal musim.

Empat kekalahan ini seperti alarm bangun pagi yang berdering kencang, waktunya bangkit sebelum terlambat. Eh, padahal ini sudah terlambat, hanya menunggu “hukuman” dari suporter saja atau tersungkur di Liga 3 musim depan. Lekas membaik Rang.. Yoh iso yoh..(HS)

Para Peternak Unggas Sejahtera Sambut Gembira Penyaluran Jagung SPHP

Wakil Ketua DPRD Jateng Dukung Program ‘BUMD Peduli’ Untuk Ringankan Beban Masyarakat