HALO BATANG – Empat perempuan berdandan seperti badut, mengiringi puluhan petani dan buruh, dalam pawai obor yang digelar Kampung Hijrah, Serikat Pekerja Nasional (SPN), dan Omah Tani Kabupaten Batang, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN).
Mereka berjalan mulai dari halaman SDN Kambangan 1 Kambangan, hingga Dusun Cepoko, Desa Tumbrep Bandar.
Panitia Peringatan Hari Santri, Kampung Hijrah, Gotama Bramanti, mengatakan para petani dan kaum buruh, merayakan HSN, agar tercipta persatuan.
“Mereka supaya bisa mengambil energi positif, memiliki semangat kebersamaan untuk bangkit lebih cepat,” kata dia, di Dusun Cepoko, Desa Tumbrep Bandar, baru-baru ini seperti dirilis batangkab.go.id.
Dia mengatakan pawai obor diikuti puluhan warga, yang berjalan kaki hingga 2 kilometer, untuk menunjukkan semangat kaum tani yang mau bangkit yang diibaratkan api yang terus menyala.
Kirab itu juga dikawal oleh empat badut yang diperankan kaum ibu.
“Maksudnya badut itu merupakan simbol ketika kita menghadapi permasalahan, serius tapi santai,” kata dia.
Ia menambahkan perayaan ini juga ditutup dengan doa bersama dan simthud duror.
Salah satu pemeran badut bersanggul, Sulis mengutarakan, berperan sebagai badut merupakan cara berekspresi di tengah kesibukannya sebagai penjual kue tradisional.
“Ya pokoknya kalau sudah pakai tata rias seperti badut ditambah sanggul, itu sudah berubah bukan diri kita. Itu cara kami melepas kepenatan setelah jualan seharian, dengan berusaha menghibur orang juga,” terangnya.
Menurutnya, dengan kirab bersama warga itu cara kaum buruh dan petani memaknai HSN.
“Suasana perayaannya lebih merakyat dengan hiburan sederhana, tapi tetap ada sisi religiusnya,” ungkapnya.
Sekretaris 1 MUI Batang, KH Hijroh Saputro mengungkapkan apresiasi perayaan HSN yang digelar Omah Tani, SPN, dan Kampung Hijrah bersama warga Bandar dan sekitarnya.
“Saking senangnya saya lebih memilih merayakan HSN bersama mereka. Padahal di tempat saya juga menggelar perayaan yang sama,” tuturnya.
Kehadirannya hanya untuk memberikan semangat kepada masyarakat karena rela berjalan kaki di tengah guyuran hujan, demi merayakan HSN.
“Mereka antusias merayakan HSN sesuai keinginan mereka. Cukup berjalan kaki sambil berselawat bersama 4 kaum ibu yang berdandan seperti badut, itulah cara mereka mengungkapkan kebahagiaan dalam merayakan HSN,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi meskipun mereka mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPQ) atau mengaji Alquran di Musala ba’da magrib, juga layak disebut santri.
“Santri itu tidak hanya yang bagi mereka yang menuntut ilmu di pondok pesantren, tapi sama halnya bagi masyarakat umum yang bersemangat membaca Al-Qur’an setiap malam, dibimbing ustaz atau kiai,” kata dia. (HS-08)