in

DVI Polri Berhasil Identifikasi 124 Jenazah Korban Gempa Cianjur

Foto : Tribratanews.polri.go.id

 

HALO SEMARANG – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, berhasil mengidentifikasi 124 jenazah korban gempa Cianjur. Sebanyak 59 jenazah merupakan anak-anak di bawah umur 15 tahun.

“Berdasarkan data korban, sampai dengan saat ini jumlah anak yang menjadi korban gempa bumi Cianjur sebanyak 59 orang,” terang Kabid DVI Rodokpol Pusdokkes Polri, Kombes Pol. Ahmad Fauzi saat konferensi pers Operasi DVI Gempa Bumi Cianjur di RSUD Sayang, Cianjur, Kamis (24/11/2022)

Kombes Pol Ahmad Fauzi mengatakan secara keseluruhan Tim DVI Polri telah menerima 131 kantong jenazah, dengan 130 kantong berisi jenazah utuh dan satu kantong berisi body part atau bagian tubuh.

Sebanyak 123 jenazah telah diidentifikasi dan diserahkan ke keluarga masing-masing.

Kabid DVI Rodokpol Pusdokkes Polri,Tim DVI Polri berhasil mengidentifikasi satu lagi jenazah yang cocok dengan data antemortem nomor 63.

Teridentifikasi sebagai Nining (64) dengan alamat Sarampad, RT 01/02, Kecamatan Cugenang, Cianjur. Korban teridentifikasi berdasarkan sidik jari dan catatan medis.

Kombes Pol Ahmad Fauzi mengimbau pada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga segera melapor ke Posko Ante Mortem DVI Polri di bagian forensik RSUD Sayang Cianjur dengan membawa dokumen seperti rekam medis gigi hingga foto terakhir korban.

“Dengan membawa data korban, seperti kartu keluarga, rekam medis gigi, dan foto terakhir korban. Untuk sampel ante mortem, diharapkan orang tua korban atau anak kandung hadir guna diambil sampel DNA-nya,” kata Kombes Pol Ahmad Fauzi, seperti dirilis Tribratanews.polri.go.id.

Beda Data

Sementara itu terkait beda data korban meninggal yang dicatat oleh BNPB dan Polri, Ahmad Fauzi mengatakan hal itu biasa terjadi.

Dalam peristiwa gempa Cianjur, hingga Kamis (24/11/22) BNPB mencatat korban tewas mencapai 272 orang. Sementara menurut data DVI Polri, sebanyak 131 orang.

Perbedaan itu terjadi karena Polri menerima data dari tim DVI yang bertugas di sejumlah rumah sakit, seperti RS Bhayangkara Cianjur, RS Cimacan, dan RSUD Sayang Cianjur.

Sementara BNPB, bisa memperoleh data dari sumber-sumber lain, termasuk korban yang tidak masuk ke rumah sakit, atau langsung dimakamkan oleh keluarganya.

“Jadi wajar ada perbedaan data yang kami terima di RS dengan data di lapangan,” kata Ahmad. (HS-08)

Menilik Rumah Warga Miskin Yang Dibangun Berkat Bantuan Ganjar

Desember, Bapenda Bakal Terapkan E-SPPT PBB