HALO KUDUS – Gagasan tentang “Imajinasi Reformasi Jilid 2” menggema dalam forum diskusi terbuka mahasiswa se-Muria Raya yang digelar di Lapangan Basket Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (4/3/2026). Diskusi yang dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Muria Raya hingga Semarang Raya itu menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus kritik terhadap dinamika politik dan ekonomi nasional.
Sorotan utama forum datang dari Presiden BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, yang memantik diskursus tajam mengenai arah kebijakan negara di tengah situasi global yang dinilai semakin kompleks.
Sejak awal diskusi, atmosfer forum terasa hidup. Ratusan mahasiswa memadati area lapangan basket kampus, menyimak paparan yang tidak hanya bernuansa akademik, tetapi juga sarat kritik sosial dan politik.
Forum ini bahkan disebut oleh sebagian peserta sebagai salah satu titik awal menguatnya kembali kesadaran gerakan mahasiswa di Kudus, kota yang selama ini dikenal sebagai Kota Kretek.
Menariknya, diskusi tersebut juga dihadiri sejumlah unsur pimpinan perguruan tinggi. Tampak hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMK Prof Sugeng Slamet, mantan Dekan Fakultas Hukum UMK Dr Hidayatullah, serta Ketua STAI Syekh Jangkung Dr Edi Supratno.
Kehadiran para akademisi ini dinilai sebagai sinyal bahwa dinamika pemikiran mahasiswa turut mendapat perhatian dari lingkungan birokrasi kampus.
Kritik terhadap kebijakan nasional
Dalam paparannya, Tiyo menilai kondisi geopolitik global saat ini tidak sepenuhnya berpihak pada Indonesia. Menurutnya, sejumlah kebijakan publik di era Presiden Prabowo Subianto berpotensi memperburuk situasi ekonomi rakyat apabila tidak dikelola secara hati-hati.
Salah satu kebijakan yang menjadi sorotan tajam adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Tiyo, alokasi anggaran program tersebut yang mencapai Rp233 triliun memunculkan pertanyaan besar mengenai prioritas kebijakan pemerintah.
“Jika tujuan awalnya untuk mengatasi stunting, kenapa yang terdampak justru anggaran pendidikan? Mengapa bukan sektor kesehatan yang diperkuat?” ujarnya di hadapan peserta diskusi.
Ia juga menyinggung dugaan pemangkasan anggaran pendidikan hingga 20 persen dari APBN yang disebut-sebut berkaitan dengan pembiayaan program tersebut.
Selain itu, Tiyo menyoroti potensi celah korupsi dalam implementasi program melalui mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menurutnya perlu diawasi secara ketat agar tidak terjadi konflik kepentingan.
Pendidikan tinggi jadi sorotan
Dalam analisisnya, Tiyo menyampaikan bahwa dengan perhitungan tertentu, sebagian anggaran program tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk memperluas akses pendidikan tinggi.
Ia mencontohkan bahwa lebih dari Rp100 triliun dinilai cukup untuk membantu menggratiskan biaya kuliah mahasiswa di seluruh Indonesia.
Tiyo juga menyoroti rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi yang masih berada di kisaran 30 persen.
Menurutnya, banyak anak muda Indonesia gagal melanjutkan kuliah bukan karena kurang kemampuan akademik, melainkan karena keterbatasan biaya.
“Banyak yang tidak kuliah bukan karena bodoh, tetapi karena tidak punya biaya,” tegasnya.
Wacana reformasi baru
Dalam forum tersebut, Tiyo juga mengutip pernyataan Sri Mulyani Indrawati mengenai tantangan ekonomi nasional yang dihadapkan pada dua pilihan sulit: menambah utang atau menghadapi tekanan krisis.
Ia menilai, tanpa perubahan kebijakan yang fundamental dalam enam bulan ke depan, potensi krisis ekonomi yang berkelindan dengan krisis politik bisa saja memicu gelombang reformasi baru.
Namun demikian, menurutnya terdapat tiga faktor yang dapat menentukan arah situasi tersebut, yakni tumbuhnya kesadaran kolektif rakyat, meningkatnya sikap kritis kelas menengah yang mulai terdampak kebijakan pemerintah, serta faktor yang ia sebut sebagai “keajaiban Tuhan”.
“Imajinasi Reformasi Jilid 2 ini sudah punya nilai tujuh. Tinggal ditopang tiga faktor tadi agar perubahan itu benar-benar terjadi,” kata Tiyo.
Ruang konsolidasi gagasan mahasiswa
Diskusi di UMK ini menunjukkan meningkatnya dinamika gerakan mahasiswa di Kudus dan wilayah Muria Raya. Lingkaran mahasiswa dinilai menjadi titik awal membangun kesadaran kolektif yang lebih luas di tengah masyarakat.
Forum tersebut juga menjadi ruang konsolidasi gagasan bagi mahasiswa lintas kampus untuk membicarakan masa depan demokrasi, ekonomi, dan pendidikan di Indonesia.
Apakah “Imajinasi Reformasi Jilid 2” benar-benar akan berkembang menjadi gerakan besar atau sekadar wacana intelektual di ruang diskusi kampus, waktu yang akan menjawabnya. Namun satu hal yang jelas, diskursus kritis mahasiswa kembali menemukan ruangnya.(HS)