in

Dinkes Kota Semarang Prediksi Kasus Angka Covid-19 Naik Pascalebaran

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh. Abdul Hakam.

HALO SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memprediksi akan ada peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 pascamomen Lebaran tahun ini. Lonjakan angka kasus corona diprediksi terjadi mulai akhir Mei hingga pertengahan Juni mendatang.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, adanya peningkatan jumlah kasus pada waktu-waktu itu disebabkan masa tersebut merupakan masa pascalibur Lebaran. Prediksinya, angka Covid-19 berada pada rentang 400 sampai 500 kasus setelah Lebaran nanti.

“Kami punya angka prediksi akhir Mei – Juni nanti pascasatu bulan libur Idul Fitri ada kenaikan kasus. Ini harus kami cegah supaya angka terkonfirmasi bisa dikendalikan, termasuk angka kematian,” jelas Hakam, Kamis (7/3/2022).

Pihaknya juga sudah menghitung prediksi kasus baru harian hingga Desember 2022. Rata-rata kasus harian hingga Desember nanti diprediksi mulai dari nol sampai 24 kasus.

Pencegahan kenaikan kasus, lanjut dia, dilakukan dengan edukasi protokol kesehatan, yang akan terus digaungkan selama masih pandemi.

“Petugas puskesmas masih terus memberikan edukasi dan menghitung tingkat penerapan protokol kesehatan di setiap kelurahan. Percepatan vaksinasi di Kota Semarang juga kian digalakkan,” katanya.

Hakam menyebutkan, saat ini capaian vaksinasi sudah tergolong tinggi. Vaksinasi dosis pertama telah mencapai 125 persen, sedangkan vaksinasi dosis kedua sudah 114 persen. Namun, capaian vaksinasi booster saat ini masih di bawah 50 persen.

Dia optimis capaian vaksinasi booster bisa mencapai 50 persen pada akhir April nanti atau menjelang Lebaran.

“Semakin banyak yang dilakukan vaksinasi booster harapannya ketika ada gelombang kasus pada Mei bisa kami antisipasi jauh lebih bagus,” ujarnya.

Menurutnya, vaksinasi dapat meminimalisir angka kasus yang bergejala dan menekan mortality rate atau angka kematian. Terbukti, pada gelombang Februari 2022, ada 8.300 kasus. Angka kematian saat itu sekitar 75 kasus. Sedangkan pada gelombang Juni 2021, ada 24.000 kasus. Disusul Juli 2021 terdapat 15.000 kasus. Angka kematiannya mencapai 1.300 kasus.

Angka kematian pada 2021 lalu lebih tinggi mengingat belum seluruhnya masyarakat mengikuti vaksinasi.

“Semakin ke sini, masih banyak yang terpapar tapi mortalitiy rate bisa kami tekan karena masyarakat sudah vaksin. Kami juga berharap, masyarakat bisa sadar atau bersedia melakukan booster meski tidak melakukan mudik atau tidak berpergian jauh. Hal ini untuk mengantisipasi saat adanya lonjakan kasus pada Mei nanti,” pungkas Hakam. (HS-06)

HUT Ke-59, Bank Jateng Makin Tumbuh dan Tangguh

Sebut Wenger Paling Rewel