HALO SEMARANG – Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, meluncurkan Digitalisasi Pesantren, pada Devotion Experience (Dev-X) Kementerian Agama di JCC, Senayan – Jakarta, baru-baru ini.
Ada dua aplikasi yang diluncurkan, yaitu: Pegon Virtual Keyboard dan Rumah Kitab.
Menurut Menag, diluncurkannya dua aplikasi tersebut, menjadi salah satu upaya Kementerian Agama dalam melestarikan khasanah nusantara dan keilmuan keislaman.
“Ini menjadi bagian dari upaya menjaga khasanah nusantara. Karena aksara pegon sendiri sudah digunakan sejak para Walisongo, untuk melakukan dakwah. Belakangan sudah mulai hilang, dan kita tidak mengininkan ini tentunya,” ungkap Menag, seperti dirilis kemenag.go.id.
Menurut Yaqut Cholil Qoumas, salah satu cara melestarikan aksara Pegon adalah dengan mendigitalisasikannya.
“Khasanah ini agar bisa tetap dipertahankan dengan digitalisasi. Dimulai sejak setahun lalu dengan melibatkan ahli khat. Ini sangat luar biasa,” ucapnya.
“Menurut penelitian, huruf ini dulu digunakan bangsa Melayu dalam mesyiarkan keilmuan dan keislaman,” ungkapnya.
Selain Pegon Keyboard Virtual, Kemenag juga merilis Rumah Kitab.
“Rumah kitab itu aplikasi untuk belajar kitab tetapi dilakukan secara virtual, seperti ruang guru. Rumah Kitab bsa dipelajari tanpa mengenal jarak dan waktu, dengan modal handphone dan paket data,” kata Yaqut Cholil Qoumas.
Kehadiran Rumah Kitab juga menjadi upaya Kementerian Agama dalam menjaga keilmuan serta keislaman yang selama ini digunakan pendidikan pesantren.
Meski demikian, Yaqut Cholil Qoumas juga menilai masih ada kelemahan dalam aplikasi ini. Bukan dari segi sistem, namun secara keberkahan dalam menuntut ilmu.
“Tak ada yang sempurna pasti ada kelemahannya, terutama keberkahannya. Karena dulu santri datang ke pesantren niat awalnya adalah ambil barokah dulu, baru belajar. Tapi mudah-mudahan meski demikian tatap barokah. Karena ini memenuhi kebutuhan zaman. Karena sekali lagi ini niatnya menjaga khasanah nusantara dan keislaman dengan baik,” kata dia. (HS-08)