HALO KENDAL – Para nelayan di Kabupaten Kendal mengaku semakin berat dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, saat ini hasil tangkapan dari melaut tidak sebanding dengan biaya operasional yang mereka keluarkan.
Belum lagi dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM, membuat mereka semakin sulit untuk mendapatkan solar bersubsidi sebagai bahan bakar operasional kapal.
Selain harus mengantongi surat rekomendasi dari dinas terkait, mereka juga harus rela mengantri dua hingga tiga hari hanya untuk mendapatkan solar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
Seperti dikatakan, Slamet Riyadi, salah seorang nelayan di Tawang, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari. Menurutnya, para nelayan saat ini semakin menderita karena terkendala dengan BBM subsidi jenis solar.
“Sudah harganya mahal, cara pembeliannya juga semakin ribet dengan berbagai syarat. Itupun harus inden lebih dahulu, dengan jatah solar yang tidak sesuai dengan kebutuhan untuk melaut,” ujarnya, Rabu (21/9/2022).
Sementara nelayan Tawang lainnya, Sukardi, juga mengaku dirinya terpaksa meluangkan waktunya untuk mengantre di SPBN supaya mendapatkan solar dan perahunya bisa jalan.
Dikatakan, setiap nelayan dijatah jumlah solar berbeda, tergantung rekomendasi dan sesuai ukuran besar kecilnya kapal dan jumlah kapasitas mesinnya.
“Meskipun ada jatah, namun kami tidak bisa mencari ikan dengan maksimal. Karena solarnya dijatah. Melautpun harus mengikuti jumlah solar yang ada,” ujar Sukardi.
Terpantau, sedikitnya ada 600-an perahu nelayan berukuran kecil dan 50-an yang berukuran besar ditambatkan di muara Sungai Kalikuto, di Dermaga Tawang, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari.
Para nelayan tersebut tidak bisa berangkat melaut, dengan alasan masih menunggu BBM yang hanya bisa diperoleh dua kali dalam sepekan di SPBN.
Akibatnya, istri para nelayan rela mengantre untuk mendapatkan BBM tersebut. Bahkan ada yang sampai tiduran di SPBN Tawang hanya demi mendapatkan dua jerigen solar.
Seperti diungkapkan Waliyah istri nelayan setempat, yang mengaku terpaksa harus ikut antre hingga tertidur di SPBN untuk menebus BBM solar bersubsidi, supaya bisa mengoperasikan mesin perahu suaminya.
“Ya gimana lagi, sebagai suami istri kita berbagi tugas. Suami istirahat dan memperbaki peralatan melaut selama menunggu BBM. Ya mau tidak mau harus menunggu dan terpaksa tidur sampai nomor antrean dipanggil, kalau tidak begitu kuatir jatahnya diambil orang,” ungkapnya.
Senada juga disampaikan Wati. Menurutnya, suaminya untuk mengisi kekosongan waktu selama tidak melaut, digunakan untuk istirahat dan memperbaiki peralatan perahu.
“Ya karena kalau ikut mengantre waktunya jadi terbuang dan mengakibatkan pikiran stres, yang nantinya malah membuat tidak nyaman pada saat berangkat mencari ikan,” timpalnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal, Hudi Sambodo saat dikonfirmasi menjelaskan, solar untuk nelayan ini adalah solar dengan harga yang disubsidi pemerintah. Tentunya dengan jumlah terbatas, sesuai dengan kuota yang ditetapkan untuk Kendal.
“Karena terbatas dan harga yang disubsidi maka perlu dikawal dan diawasi supaya sampai yang berhak, yaitu nelayan. Keadaan seperti ini hampir terjadi di semua daerah tidak hanya Kendal saja,” jelasnya.
Untuk itulah, lanjut Hudi, dalam penyaluran, pihaknya mengeluarkan rekomendasi kepada para nelayan sebagai syarat untuk menebus solar bersubsidi.
“Supaya tidak terjadi penyalahgunaan dalam penyaluran solar bersubsidi ini, nelayan diwajibkan menebus jatah solar dengan membawa surat rekomendasi dari dinas terkait,” ujarnya.
Admin SPBN Dermaga Tawang, Gempolsewu, Zaky Nur Komar menjelaskan, dalam penyaluran BBM jenis solar ini, para pengantre diberikan kupon nomor antrean supaya tertib dan lancar.
(HS-06)