in

Dari Daun Talas, Pesantren, hingga Toko Madura: Raedu Basha Mengirim Surat untuk Kemanusiaan

Acara bedah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) terbarunya, "Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas", yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di KopiSufi, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal.

SUASANA KopiSufi di Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, malam itu terasa berbeda. Secangkir kopi hangat berpadu dengan percakapan panjang mengenai sastra, pesantren, hingga kehidupan masyarakat Madura. Di tengah forum bertajuk NgopiSastra #31 yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), hadir sastrawan asal Madura, Raedu Basha, membedah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) terbarunya, Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas.

Pria yang memiliki nama asli Muhammad Badrus Shaleh Sibqi, atau akrab disapa Lora Badrus, tampil sederhana dengan gaya khas santri. Tanpa banyak basa-basi, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep dan Pondok Pesantren Sarang Rembang itu langsung mengajak peserta menyelami dunia yang selama ini menjadi ruang hidup sekaligus sumber inspirasinya: pesantren.

Bagi Raedu, sebelas cerpen yang terangkum dalam buku tersebut bukan sekadar karya fiksi. Semuanya lahir dari pengalaman, pengamatan, dan kegelisahan yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui buku antologi ini, saya ingin mengingatkan publik pada sosok kiai yang benar-benar menjadi kiai, mengajak pembaca melihat pergeseran nilai di lingkungan pesantren, sekaligus menumbuhkan tradisi menulis di kalangan santri,” tuturnya.

Sebagai antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Raedu memadukan kepekaan sastra dengan ketajaman membaca realitas sosial. Pengalaman itu pula yang mengantarkannya meraih berbagai penghargaan, di antaranya terpilih dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015, Nusantara Academic Award 2019, dan Anugerah Sutasoma 2020.

Namun, malam itu pembicaraan tidak berhenti pada isi buku. Diskusi berkembang ke berbagai persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk fenomena menjamurnya toko kelontong milik warga Madura di berbagai daerah.

Raedu melihat keberadaan toko-toko tersebut bukan semata kisah sukses ekonomi, melainkan cerminan cara pandang masyarakat Madura terhadap kehidupan.

“Di balik toko-toko itu ada keyakinan bahwa rezeki berasal dari Tuhan. Bekerja adalah ikhtiar, sementara hasilnya adalah urusan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Pandangan itu mengundang perhatian peserta diskusi. Bagi Raedu, semangat tersebut menjadi salah satu modal budaya yang membuat masyarakat Madura berani merantau dan bertahan di berbagai daerah.

Diskusi yang dipandu Sekretaris Jenderal PSK, Lukluk Atsmara Anjaina, berlangsung hangat tanpa sekat. Para peserta bebas mengajukan pertanyaan mengenai tokoh, latar, hingga simbol-simbol yang muncul dalam sebelas cerpen karya Raedu.

Kehadiran dua pemantik, Zulfa Fahmy, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan Universitas Terbuka (UT), serta penulis dan pegiat literasi Widyanuari Eko Putra, membuat pembahasan semakin kaya.

Zulfa mengaku memiliki kedekatan khusus dengan salah satu cerpen berjudul Ruang Tamu Kyai Dahol. Karya tersebut bahkan kerap dijadikan bahan diskusi mahasiswa pada mata kuliah Cerita Rekaan di Universitas Terbuka.

Menurutnya, mahasiswa yang sebagian besar tinggal di daerah pedesaan merasa dekat dengan cerita tersebut karena menghadirkan potret kehidupan yang akrab dengan keseharian mereka.

“Raedu sedang melakukan pembelaan estetik terhadap para kiai yang sunyi. Di luar sorotan publik, masih banyak kiai yang mengabdikan hidupnya dengan keikhlasan, bukan demi kekuasaan ataupun kepentingan materi,” ujarnya.

Ia menilai cerpen itu memperlihatkan hubungan yang tulus antara seorang kiai dengan masyarakat desa. Sosok kiai hadir sebagai tempat meminta doa sekaligus penuntun moral, tanpa berharap imbalan apa pun.

Zulfa juga menambahkan bahwa sastra sering kali mampu menjelaskan sisi kehidupan yang sulit diterangkan melalui logika semata.

“Tidak semua persoalan kemanusiaan dapat diselesaikan dengan hitungan yang kaku. Ada ruang batin dan pengalaman spiritual yang hanya bisa dipahami melalui cerita,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Widyanuari Eko Putra. Ia melihat benang merah dalam antologi tersebut adalah kritik terhadap relasi kuasa yang belakangan kerap menyeret institusi keagamaan ke arena yang tidak semestinya.

Meski demikian, menurutnya, kekuatan buku ini justru terletak pada cara Raedu menyampaikan kritik tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.

“Saya lebih tertarik melihat bagaimana kritik terhadap kekuasaan itu disampaikan melalui cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selama hampir dua jam, forum sastra itu berlangsung dalam suasana akrab. Tawa sesekali pecah ketika Raedu menyelipkan humor khas pesantren, lalu berubah hening saat pembicaraan menyentuh nilai-nilai keikhlasan, tradisi, dan perubahan zaman.

Malam itu, Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas terasa lebih dari sekadar kumpulan cerpen. Ia menjadi surat terbuka yang mengajak pembaca kembali melihat wajah pesantren dari jarak yang lebih dekat, menemukan kembali sosok-sosok sederhana yang bekerja dalam sunyi, serta menyadari bahwa sastra masih memiliki ruang untuk merawat nurani di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Di sebuah kedai kopi di Kendal, surat itu akhirnya sampai kepada para pembacanya—bukan melalui amplop atau perangko, melainkan lewat cerita yang diam-diam menyentuh hati.(HS)

Program TMMD Sengkuyung Tahap III di Wonosari Patebon Kendal, Fokus Jalan Rabat Beton 650 Meter