
HALO BISNIS – Imbas dari adanya larangan mudik Lebaran Idul Fitri Tahun 2021 ini, akan sangat dirasakan bagi pelaku usaha, terutama sektor perhotelan di Kota Semarang.
Sebab, akan mengalami penurunan tingkat okupansi atau keterisian kamar hotel yang signifikan, hanya diangka 20- 30 persen dari tingkat okupansi sebelumnya Maret -April 2021 mencapai di atas angka 60 persen.
GM Hotel Holiday Inn Express Semarang Simpanglima, Ilham Zaid Sungkar mengakui kaget dengan kebijakan pelarangan mudik Lebaran tahun ini. Tentunya, akan berimbas pada jalannya ekonomi yang akan berhenti.
“Adanya larangan mudik Lebaran, membuat seluruh hotel kaget. Pasti ekonomi berhenti, saya perkirakan penurunan okupansi di angka 30 persen dari yang sekarang, Rabu (28/4/2021).
Nantinya, kata dia, maksimal hanya tinggal 20-30 persen okupansinya.
“Karena sudah ada yang cancel menginap, dari luar kota,” terangnya.
Meski begitu, lanjut dia, pada bulan April 2021 tingkat okupansi baik. “Alhamdulillah cukup bagus ya. Awal April 2021 dari tanggal 1-10. Itu okupansi atau keterisian kamar hotel diangka 60- 80 persen,” imbuhnya.
Karena sebelum puasa ada tradisi masyarakat untuk nyadran, jadi pihaknya terbantu.
“Sedangkan untuk rata-rata 30-40 persen okupansi tiap harinya. Dengan total kamar total ada 198 kamar,” katanya.
Sementara itu, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Undip Semarang, Wahyu Widodo mengatakan, saat ini memang semua sektor pada situasi sulit, sehingga harus benar-benar diantisipasi para pengusaha terutama sektor angkutan umum dan perhotelan.
Di mana, saat moment saat hari besar seperti Lebaran ini, seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal, namun dengan adanya kebijakan pelarangan mudik, sudah ada yang mengcancel atau menunda untuk ke Semarang.
“Menurut saya solusinya, pihak pemerintah, ataupun BUMN sedikit demi sedikit mulai mengalokasikan anggarannya untuk kegiatan meeting di hotel. Tentunya dengan prosedur penerapan protokol kesehatan. Karena klien hotel banyak dari pemerintah dan BUMN untuk melakukan kegiatan rapat-rapat dinas. Sementara itu untuk bisa dioptimalkan,” katanya.
Apalagi, kata dia, Setelah Lebaran Idul Fitri. Atau bulan Juni 2021 mendatang, pemerintah akan melakukan banyak realisasi anggaran. “Sehingga BUMN yang bisa mendorong sektor perhotelan untuk running bisnisnya,” ujarnya.
Sebab, kata dia, hingga beberapa waktu ke depan, pemerintah bakal terus ketat untuk mengantisipasi penularan Covid-19, dengan berbagai pembatasan, mengingat di beberapa negara kondisinya tidak bisa dikendalikan dan mengalami krisis.
“Pembatasan kegiatan masyarakat di moment saat event hari-hari besar seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, saya melihat pemerintah akan bakal ketat,” imbuhnya.
Sementara ini, harapan dengan vaksin lebih cepat lagi. Sampai April 2021, realisasi vaksin di masyarakat baru mencapai 7 persen.
“Dari total 270 juta penduduk Indonesia. Ini sangat kecil,” lanjutnya.
Memang saat ini, sambung dia, sudah ada beberapa kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dari pemerintah berupa pemberian keringanan atau relaksasi pajak dan stimulus.
“Namun, tidak mungkin mengcover 100 persen. Bahkan, ada beberapa perusahaan yang harus menutup usahanya karena beban berat ekonomi,” pungkasnya.(HS)