in

Curah Hujan Tinggi, Permintaan Fogging di Batang Meningkat

Petugas melakukan fogging untuk menangkal penyebaran demam berdarah dengue. (Foto : Batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Dinas Kesehatan Batang, makin intens melakukan pengasapan atau fogging ke sejumlah sarana publik, termasuk di instansi maupun institusi pendidikan, seiring meningkatnya intensitas curah hujan.

Pada musim seperti ini, tingkat kerawanan penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga meningkat, sehingga perlu ada antisipasi, termasuk dengan fogging.

Staf Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batang, Siswandi mengatakan, pengasapan dilakukan sesuai permintaan, karena adanya kerawanan penyebaran DBD di sejumlah ruang publik.

“Kami juga melakukan pengasapan di perkantoran, rumah dinas dan Taman Kanak-kanak,” katanya di area Makodim Batang, Kabupaten Batang, Rabu (8/1/2024).

Selama awal Januari, pihaknya telah melakukan pengasapan sebanyak 4 kali di beberapa lokasi.

“Paling banyak di lingkungan pemukiman masyarakat, seperti Desa Ujungnegoro, Lapas Batang, Pasekaran dan area Makodim,” jelasnya.

Siswandi mengakui, seiring intensitas curah hujan yang cukup tinggi, dimungkinkan akan terjadi peningkatan jumlah perkembangan nyamuk Aedes aegypti, maka diperkirakan kasusnya cenderung meningkat.

“Selama musim hujan, perkiraan akan ada peningkatan permintaan pengasapan sampai 50 persen,” terangnya.

Berdasarkan data, selama tahun 2024 lalu, Dinkes telah melakukan pengasapan di 230 lokasi.

Adapun pada tahun 2025 ini, Dinkes sudah mengalokasikan untuk 150 lokasi pengasapan.

Serius

Sementara itu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyatakan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang mendapat prioritas untuk diwaspadai.

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Yudhi Pramono, seperti pernah dirilis kemkes.go.id, mengatakan dengue merupakan masalah kesehatan serius di Indonesia.

Hal itu karena prevalensinya cukup tinggi dan sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

Secara kumulatif, pada 2023 dilaporkan terdapat 114.720 kasus dengan 894 kematian.

Pada minggu ke-43 tahun 2024, dilaporkan 210.644 kasus dengan 1.239 kematian akibat DBD yang terjadi di 259 kabupaten/kota di 32 provinsi.

Suspek dengue yang dilaporkan melalui SKDR secara kumulatif hingga minggu ke-43 mencapai 624.194 suspek.

Yudhi Pramono juga mengatakan sejak awal 2024, peningkatan kasus DBD dan angka kematian yang dilaporkan tidak hanya di daerah endemis, tetapi juga di daerah yang sebelumnya bebas dari DBD.

Peningkatan risiko penularan dengue ini juga dipengaruhi oleh fenomena El nino dan perubahan iklim.

“Untuk regional ASEAN saat ini, telah dilaporkan ada kurang lebih 219 ribu kasus, dengan 774 kematian, dan Indonesia sendiri adalah penyumbang terbanyak dari kasus dengue tersebut,” kata Yudhi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan berbagai upaya dalam mencegah terjadinya kejadian luar biasa akibat dengue.

Salah satu upaya tersebut, yakni mengupayakan terus budaya pemberantasan sarang nyamuk dengan mewujudkan terlaksananya gerakan satu rumah satu jumantik.

“Program tersebut juga bertujuan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, terutama jentik nyamuk di berbagai tempat yang biasanya menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, dan gerakan satu rumah satu jumantik juga mengandung pesan untuk pencegahan dan pengendalian dengue dimulai dari rumah,” lanjut Yudhi.

Pada 2024, wilayah yang terjangkit DBD mengalami perluasan, yaitu mencapai 482 kabupaten/kota. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pemendekan siklus tahunan penyakit ini, dari 10 tahun menjadi tiga tahun atau bahkan kurang. (HS-08)

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Batang Siapkan Prosedur Ketat Pelaksanaan Makan Bergisi Gratis

Terkait PPDB, Disdik Kota Semarang Tunggu Kebijakan Pusat